Video Penampakan Awan Cumulonimbus yang diduga menyebabkan Pesawat Air Asia Jatuh

awan cumulonimbus1

Pakar penerbangan Geoffrey Thomas, berpendapat insiden hilang kontaknya pesawat AirAsia berkode penerbangan QZ8501 sama seperti tragedi jatuhnya pesawat Air France berkode penerbangan AF447 pada 2009. Kemungkinan pilot QZ8501 menerbangkan pesawat dengan kecepatan terlalu rendah ketika bertemu dengan cuaca buruk ekstrem.

“Para pilot berkeyakinan kru (QZ8501) dalam upaya untuk menghindari badai dengan menambah ketinggian dan belok kiri, tapi mereka terlambat menambah kecepatan” ujar dia. Cuaca di ASEAN bisa berubah sangat cepat di bulan Desember-Januari, awan cumulonimbus bisa tiba-tiba menyergap saat pilot masih mempertimbangkan  atau menunggu izin ATC untuk merubah haluan.

“mereka mengalami stall (aerodinamic stall), seperti yang terjadi dalam hilangnya Air France AF44 pada 2009,” lanjut Thomas, seperti dikutip dari AAP.
Pada 2009, Air France AF44 jatuh ke Samudera Atlantik dalam perjalanan dari Rio de Janeiro, Brasil menuju Paris, Perancis.

Thomas memperkirakan kecepatan AirAsia QZ8501 sekitar 100 knot, setara sekitar 160 kilometer per jam. “Terlalu lambat. Saat itu ketinggiannya juga sangat berbahaya,” ujar dia.

Menurut Thomas, Airbus A320-200 yang dipakai penerbangan ini merupakan pesawat canggih. Dengan pemikiran tersebut, dia berpendapat hilang kontaknya pesawat ini semata karena faktor cuaca ekstrem.

“Pesawat ini ‘tertangkap’ oleh tarikan awan cumulonimbus. karena kecepatan terlalu lambat di ketinggiannya saat itu, saat tekanan udara cukup tipis, sehingga sayap tidak mampu lagi menopangnya. lalu pesawat mengalami stall.”
presentation-aerodynamic-33-728Meski sudah menyebut A320 sebagai pesawat canggih, Thomas menegatakan radar di pesawat tersebut bukan produk terbaru. Menurut dia, radar yang terpasang di A320 kadang-kadang bermasalah ketika berada di lingkungan berbadai. “Ada kemungkinan pilot tertipu oleh kondisi itu.”

Radar terbaru yang dipelopori penggunaannya oleh Qantas pada 2002, sebut Thomas, memiliki kemampuan pembacaan badai yang lebih lengkap dan akurat. Namun, radar baru ini belum tersertifikasi untuk bisa dipakai di A320 sebelum 2015.

“Ketika Anda tak punya alat yang disebut dengan multi-skilled radar itu, Anda harus mencermati data radar itu secara manual. Anda harus melihat ke dalam badai, seberapa intensitas kelembaban dan hujan di dalamnya, lalu Anda membuat keputusan seberapa buruk itu. Manual, bisa jadi ada kesalahan, dan itu yang terjadi.”

Pesawat AirAsia QZ8501 sempat meminta izin untuk naik ke ketinggian 38.000 kaki dari yang sebelumnya terbang di 32.000 kaki. Namun, permintaan itu ditolak oleh air traffic control (ATC).
“Pesawat terbang 32.000 kaki dan lalu minta izin ke kiri serta naik ke 38.000 kaki. Tetapi untuk naik 38.000 kaki, belum diizinkan karena di atasnya masih ada pesawat,” ujar Direktur Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murjatmodjo di Kantor Otoritas Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Minggu (28/12/2014)

Berikut rekaman video sebuah pesawat yang terbang di atas awan cumulonimbus

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=9jcMAdrxDh8&w=420&h=315]

Dan sebuah pesawat yang menerjang awan cumulonimbus
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=y2qRL80ciy4&w=560&h=315]

roda2blog di sosial media

Tinggalkan Balasan