Goa Selomangleng, Peninggalan Peradaban Tinggi Yang Tak Dilestarikan Serius

Pelataran dengan pecahan arca

Di dunia ini, salah satu peradaban kuno yang paling menakjubkan adalah memahat gunung untuk dijadikan tempat tinggal, baik istana, rumah atau tempat ibadah. Salah satu goa buatan manusia yang terkenal adalah Petra di Yordania. Kemasyhuran Petra menyebabkan dia terpilih jadi satu dari 7 keajaiban dunia versi voting 7wonders.

Padahal, Petra sebenarnya biasa saja bila dibandingkan dua goa buatan manusia di India, yaitu Ayanta dan Ellora. Petra memang menakjubkan dari luar, tapi di dalamnya miskin interior. Berbeda dengan Ayanta dan Ellora yang di bagian dalam goa penuh dengan pahatan relief, lukisan kuno, tiang-tiang yang dipahat dari stalagmit dan stalagtit, ruangan-ruangan yang memiliki interior artistik dengan hiasan air terjun indah. Berikut ini perbandingan tiga bangunan pahatan goa manusia, untuk lebih lengkap tentang interior Ellora dan Ajanta silahkan gogling ya 😉

Bagaimana dengan di Indonesia? apakah leluhur Nusantara zaman dulu juga pernah memiliki peradaban memahat gunung batu untuk dijadikan tempat tinggal? Iya ada. Peradaban Nusantara juga pernah mengenal hal yang semacam ini. Peradaban di Indonesia sangat erat dipengaruhi Tanah India, tentu ada Goa Ajanta dan Ellora versi Nusantara.

Baca Juga:   Penampakan Kapal Siluman Tanpa Awak TNI AL

Di Jawa Timur, jejak peradaban ini ada di Tulungagung dan Kediri dengan nama yang sama, Goa Selomangleng. Di Tulungagung berada di desa Sanggrahan kecamatan Boyolangu. Sedangkan di Kediri terdapat di Kecamatan Mojoroto, di seberang jalan Universitas Kadiri.

Nasib dua situs hampir sama, tak ada upaya pelestarian dari pihak terkait. Nasib Goa di Kediri malah mengenaskan karena di sekitar goa malah dibangun bangunan modern seperti waterboom. Ini sudah ciri khas kebijakan pemerintah dalam melestarikan bangunan cagar, bukanya merestorasi sesuai bentuk bangunan asli, tapi malah membangun bangunan modern di sekitar maupun di atas situs purbakala.

Jadi teringat celotahan teman, andai Borobudur bukan Belanda yang merestorasi, mungkin pemerintah bakal lebih memilih membangun tugu monas di teras tertinggi daripada merestorasi stupa. :mrgreen:

Perhatian pemangku kebijakan hanya ala kadarnya saja dan yang terjadi malah sebaliknya. Kawasan Selomangleng sekarang ini justru lebih diriuhkan oleh berbagai macam kegiatan yang tidak hanya akan mengurangi respek masyarakat terhadap keberadaan si situs, namun juga mengancam keaslian dan keutuhannya.

Baca Juga:   Apapun Warna Lampunya, Ngebut di Perlintasan Lampu Lalu Lintas adalah Konyol!!!

Keberadaan tempat hiburan (kolam renang, panggung hiburan dan sejenisnya) yang dibangun secara permanen hanya beberapa belas meter dari situs, beberapa patung yang lenyap dan ditambal secara serampangan dengan menggunakan semen merupakan bukti nyata ancaman tersebut. Walaupun tidak jauh dari lokasi tersebut berdiri museum, namun keberadaannya hanya sekedar memajang patung dari berbagai penjuru Kediri.

Selomangleng seharusnya memberikan kebanggan pada pengunjungnya tentang tingginya peradaban Nusantara yang pernah dibangun oleh Wangsa Airlangga.

Saya masih menaruh curiga bahwa di perbukitan Selomangleng masih tersimpan goa-goa buatan manusia lainya yang lebih besar ukuranya. Berikut galery foto relief Goa Selomangleng yang awalnya indah dan artistik tapi sekarang banyak mengalami kerusakan

Sungguh menyedihkan melihat peninggalan sejarah yang terbengkalai tanpa ada upaya merestorasi atau menjaga apa yang masih tersisa.

roda2blog di sosial media

Tinggalkan Balasan