Sejak Kelas 3SD, Bocah Kelas 5 SD Ini yang Rawat Bapak dan 2 Kakaknya yang Lumpuh

keluarga-lumpuh

Usai sekolah, Ridwan Gunawan (11) tidak bisa bermain seperti teman sebanyanya. Siswa kelas lima SD Padasuka, Sumedang Utara itu, harus menjajakan gorengan dan makanan kecil keliling kampung.

Ridwan jarang mengisi perutnya lebih dulu. Ia lebih sering segera pergi ke rumah pemilik warung tak jauh dari rumahnya untuk mengambil barang dagangan yang akan dijualnya meniti undakan jalan yang curam dan berbukit.

“Saya jualan seperti ini sejak kelas tiga SD,” kata Ridwan saat ditemui di rumahnya di RT 1 RW 6, Kampung Bojongloa, Desa Girimukti, Kecamatan Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Jumat (16/1/2015).

Setiap hari ia baru pulang ke rumah sekitar pukul 15.00 WIB dengan membawa uang hasil jualan keliling. Besaran uang yang dibawa pulang tergantung, bisa Rp 5 ribu sampai Rp 8 ribu. Uang ini dipakai untuk kebutuhan sehari-hari.

Hari itu Ridwan sedang berkumpul dengan bapak dan kedua kakaknya. Kedua kaki bapak dan kedua kakaknya lumpuh. Ridwan harus membantu mereka berdiri untuk berjalan sambil tangannya berpegangan ke dinding rumah semi permanen.

Untuk membantu bergerak ke dapur dari ruang tengah, ke kamar mandi atau ke luar rumah, warga sekitar membuatkan pegangan dari batang-batang bambu.

Setiap hari ia baru pulang ke rumah sekitar pukul 15.00 WIB karena harus berjualan makanan kecil dulu. Setelah itu, Ridwan merawat bapak dan kedua kakaknya.

Pekerjaan mengangkat dan membobong bapak dan kedua kakaknya supaya bisa berdiri harus dilakukan Ridwan yang berbadan kekar ini. Dengan gerakan yang terbatas, kadang kedua kakaknya ikut membantu membereskan rumah.

Baca Juga:   Latihan Ketiga MotoGP Qatar, Zarco Terdepan si Vinales Makin Terpuruk

Sering berjualan keliling kampung, membuat Ridwan dikenal warga. Tak sulit mencari rumah Ridwan ini. Warga di pangkalan ojek jalan Samoja-Padasuka pasti mengenal rumahnya.

“Anak yang hebat, pulang sekolah jualan dan menjadi tulang punggung keluarga karena bapak dan kedua kakaknya lumpuh,” kata Mulyati (25) tetangganya.

Ridwan memiliki tiga orang kakak, hanya saja yang dua lumpuh seperti bapaknya. Sedangkan kakaknya yang lain bekerja di Bandung.

“Kakak yang bekerja di Bandung ini juga membantu dan mengirim uang setiap bulannya. Sementara ibunya bekerja juga di Bandung,” kata Mulyati.

Untuk kebutuhan hidup keluarga sehari-hari, tak jarang warga membantu keluarga Ridwan. “Kalau ada uang atau makanan atau besar kadang sering diberikan ke keluarga ini,” katanya.

Adeng (46), bapak Ridwan menderita lumpuh sejak 17 tahun yang lalu dan sekarang praktis tinggal di rumah saja. Begitu juga anak tertuanya, Holidin Abadi (24) yang menderita lumpuh di usia 16 tahun dan adiknya Devi Trisnawati (21) juga lumpuh sejak enam tahun lalu.

Sementara kakaknya, Sukma Wiguna (18) harus keluar kota mencari pekerjaan. Begitu juga dengan ibunya, Sartini (45) yang bekerja di Bandung.

Selain menderita lumpuh, kedua kaki mereka kaku dan tak bisa digerakkan, sementara gerakan tangan mereka terbatas. Bahkan bicara mereka menjadi kelu dan tak jelas.

Baca Juga:   Operasi Pertama Cedera M Fadli Berhasil, Terus Kirim Doa ya sob

“Awalnya badan terasa pegal, linu serta kepala pusing dan lama-lama kedua kaki tak bisa digerakan. Kalau sedang terasa sakit, sekujur badan sakit dan meriang,” kata mereka.

Menurut Lina (27), keluarga pernah membawa Adeng sempat dibawa ke dokter sebelum menderita kelumpuhan. “Kata dokter terserang rematik dan ada saraf yang terganggu,” ungkapnya.

Selama ini Adeng dan kedua anaknya tak pernah diperiksa dari rumah sakit. “Hanya saja kedua anak saya rencananya akan dibawa ke rumah sakit oleh Pak RT,” kata Adeng yang bicaranya tak jelas dan harus susah payah untuk berbicara.

Wakapolres Sumedang Kompol Tri Suryanti menjengguk keluarga ini dan memberikan bantuan berupa beras, makanan, bingkisan dan uang, Jumat (16/1/2015).

Tri sempat berbincang-bincang dengan keluarga ini dan memuji Ridwan yang usianya masih sangat kecil tapi bekerja keras membantu dan merawat bapak serta kakak-kakaknya.

Hidup di dunia ini adalah ujian yang tak pernah henti dari lahir sampai mati. Bahkan kenikmatan pun juga ujian sebagaimana doa yang dipanjatkan Nabi Sulaiman dan diabadikan al-Qur’an saat dinobatkan menjadi raja mewarisi kerajaan ayahnya:
“Ini semua adalah karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku akan bersyukur atau kufur”

2 Komentar

Tinggalkan Balasan