Candi Cetho Tempat Brawijaya Moksa, Saat Gelap Berawan Malah semakin Eksotis

cetho

Candi Cetho adalah salah satu candi terindah di pulau jawa. Candi yang dibangun pada masa akhir kerajaan Majapahit ini sampai sekarang masih difungsikan sebagai tempat beribadah.

Lokasi candi yang berada di salah satu puncak pegunungan Gunung Lawu ini memang sangat menawan pemandangan alamnya. Bahkan ketika mendung gelap berawan menggelayut di langit, pemandangan di Candi tempat Brawijaya wafat ini semakin eksotis.

candi cetho1

Alkisah, saat Prabu Brawijaya V terguling dari tahta Majapahit beliau berhasil selamat dari pemberontakan Adipati Daha, Ranawijaya. Trowulan Ibukota Majapahit luluh lantak akibat serbuan itu, menghabisi riwayat kegemilangan Kerajaan Majapahit.

Dari kota Daha tempat Ranawijaya bertahta, putra menantu Brawijaya ini masih mengklaim sebagai penerus Majapahit. Tapi rakyat memandangnya tak patut duduk lagi di atas singgasana suci keturunan Wangsa Rajasa.

Dengan bantuan prajurit tersisa, Brawijaya berhasil selamat melarikan diri sembari memandang asap api menghanguskan kebesaran Istana Trowulan. Setiba di Kedaton Giri, wilayah persekutuan Demak, beliau langsung disambut para pengungsi dan pembesar giri untuk dihantar menghadap Sunan Giri.

Baca Juga:   Siswa SMKN 1 Bendo Magetan Raih Juara Astra Honda Skill Contest 2018

Raden Fatah sang Raja Perseketuan Demak, putra beliau dari selir putri Cina Tan Go Hwat, telah menerima kabar kekalahan sang Ayahanda dan berkehendak untuk menjemput sendiri beliau di Kedaton Giri dengan kapal tercepat dari Demak.

Pertemuan ayah dan sang anak terbuang ini mengharukan Istana Giri. Raden Fatah meminta sang Ayah untuk menemaninya ke Demak dan menjadi penasehat di sisinya.

Hal ini bertentangan dengan keyakinan Brawijaya, tak sepatutnya seorang raja yang kalah dan melarikan diri medan perang menjadi tamu di sebuah kerajaan yang damai. Dia takut nasib buruknya akan menjadi karma bagi keturunan Fatah dan kelangsungan Kerajaanya. Beliau ingin mengabdikan diri sebagai resi untuk sisa hidupnya seperti halnya Airlangga dalam pelarian.

Setelah bermusyawarah dengan para sunan di wilayah Demak, Raden Fatah memilih lereng sebelah barat Gunung Lawu sebagai tanah perdikan bagi Ayahnya dan semua pengungsi Majapahit yang ingin tetap mempertahankan keyakinan agamanya. Tanah perdikan itu kemudian dikenal sebagai Karanganyar, atau desa baru.

Baca Juga:   Warga Baki Pasang Pocongan Dan Kuburan Di Jalan Raya

Sebuah surat juga dikirim ke Daha, berisi sebuah peringatan bagi iparnya Ranawijaya. Bahwa Brawijaya dan tanahnya berada dalam perlindungan Demak setiap usaha penyerbuan berarti perang terhadap Demak.

Di tempat tersebut para pengikut Brawijaya tetap hidup dengan ajaran dan budaya Majapahit. Sebagai bentuk doa pada yang Maha Kuasa untuk menghentikan segala konflik di Tanah Jawa dan Keturunanya. Brawijaya membangun dua candi, Sukuh dan Cetho yang dipersembahkan pada Wishnu untuk memohon petunjuk atas segala bala yang sedang terjadi di Jawa.

candi cetho2

Noted: Kisah diatas bukan teori sejarah, tapi bagian dari Novel Perang Jawa yang masih saya edit. 😉 maklum masih belajar nulis jadi sering ditolak penerbit dan harus diedit.

roda2blog di sosial media

4 Komentar

Tinggalkan Balasan