Lagi, Karena Ngebut, Gadis Manis ini Tewas Terlindas Truk di Gresik

Berdasarkan pantauan saya menguntit kecepatan kaum wanita di jalan raya dalam mengendarai sepeda motor. Gila!, kecepatan rata-ratanya ada di kisaran 70-80 KpJ. Padahal speed saya naik sepeda motor saja cuma 60KpJ maksimal.

Pada kecepatan 70KpJ, jelas sangat riskan sekali ketika ada pengendara di depan melakukan pengereman mendadak. Dibutuhkan jarak 15 meter meter agar sepeda motor bisa berhenti total.

jarak kecepatan dan pengereman

Selain jarak yang mepet rapet, karena sangking banyaknya populasi motor sekarang. Kesalahan penggunaan rem yaitu 100% rem belakang saat panik, memperparah potensi kecelakaan. Ban belakang yang direm 100% akan oleng dan motor beserta bikernya pasti ambruk.

Seperti yang dialami gadis manis di Jalan Raya Desa Domas, Kecamatan Menganti Gresik. Ceritanya doski ingin menyalip truk trailer di depanya. Dengan ngebut dia menyalip truk tersebut padahal di depan ada GL Pro yang sedang berhenti untuk putar balik (U Turn). Terjadilah panik braking dalam kecepatan tinggi tapi gagal. Gadis manis ini nabrak ekor si GL Pro lalu ambruk ke kiri kemudian dilindas oleh Truk Gandeng di sampingnya. (sumber Jpnn)

Baca Juga:   Seorang Ibu merilis Video Kecelakaan Anaknya untuk mendukung kampanye Safety Riding

gadis manis tewas di jalan raya

Kesalahan gadis itu adalah:
1. Terlalu ngebut dan tidak memperhatikan jarak dengan sepeda motor didepanya, sehingga ketika motor yang didepanya berhenti mendadak, tidak cukup jarak bagi motornya untuk berhenti. Inilah kenapa Rossi seharusnya juga menuliskan kata JAGA JARAK, seperti di bak-bak Truk.

2. Teknik pengereman yang salah. Masih banyak yang takut menggunakan REM DEPAN karena alasan takut njungkel padahal saat mengerem harus dilakukan dua-duanya. Jika hanya rem belakang saja, motor akan ngepot.

Kesalahan Pemerintah:
Harus ada limiter speed dong bagi sepeda motor. Misalnya: Matik hanya maksimal 60KpJ, Bebek 70KpJ, Sport 100KpJ.
Jika tidak ada kebijakan pembatasan kecepatan pada motor produksi masal, pabrikan akan semakin ngawur. Mungkin 5 tahun lagi, motor matik bermesin 200cc adalah hal biasa.

Dan jepang pun bersorak-sorai menikmati laba devisa dari Yamaha-Honda-Suzuki diatas nyawa rakyat Indonesia yang melayang mati di jalan raya. 20-30ribu nyawa setahun sob!, ternyata senjata bernama kendaraan bermotor itu, lebih banyak membunuh nyawa daripada jet tempur Sukhoi ataupun F18 Tomcat.

Baca Juga:   Setelah Malang-Jakarta, Mbah Indra Akan Jalan Kaki Keliling Indonesia Demi Menuntut Polisi Yang Menabrak Mati Anaknya

Hebat bener orang Jepang ya, membikin senjata yang lebih murah dan lebih mendatangkan devisa ke Jepang daripada Helikopter Apache untuk Amerika. :mrgreen:

roda2blog di sosial media

3 Komentar

  1. devisa buat negara juga gede dri industri otomotif….. mulai dari hulu ke hilir….

    pelajaran safety riding hrus digiatkan….
    mnurutku sih mnding galakkan angkutan masal…. agar pemilik kndaraan pribadi berpindah ke angkutan masal yg lbh nyaman dan aman, pembatasan jalur kendaraan besar juga bisa dilakukan… slama ini roda dua slalu jadi korban

Tinggalkan Balasan