7 Kesalahan PSSI dalam mengelola sepakbola Indonesia

1. 500 Milyar Rupiah dihabiskan untuk satu musim kompetisi PSSI
Setiap klub di ISL (Strata atas) rata-rata membutuhkan dana 15 Milyar Rupiah untuk mengarungi satu musim kompetisi. Bila ada 18 klub, maka total ada 270 Milyar Rupiah yang dihabiskan. Darimana sumber dana itu didapat? dari APBD daerah. Berikut total ilustrasi dana yang dihabiskan tim-tim sepakbola dari divisi terendah sampai super yang dananya berasal dari APBD

Kompetisi Jumlah Tim Dana pertim Total Dana
ISL 18 15 Milyar 270 Milyar
Divisi Utama 38 5 Milyar 190 Milyar
Divisi Satu 48 1 Milyar 48 Milyar
Divisi Dua 64 500 juta 32 Milyar
Divisi Tiga 100 300 juta 30 Milyar
Total dana 570 Milyar

Setelah adanya larangan dari menteri dalam negeri untuk menggunakan APBD dalam membiayai klub sepakbola. PSSI dan Pengcab PSSI menemukan celah. Para pejabat dan Pengcab PSSI menganggarkan dana yang dibutuhkan untuk dialokasikan ke KONI Daerah, lalu dari KONI daerah baru diberikan pada klub. Dan ini memang tidak melanggar undang-undang.

Pinterr banget kannn memboroskan uang rakyat. Padahal kompetisi olahraga lain seperti bola voli (Proliga dan Livoli) dan basket hampir tidak menggunakan dana APBD, murni dana sponsor.

2. Sepakbola menjadi ajang Kampanye
Persim Maros, Persik Kediri, Persekabpas Pasuruan, Persibo Probolinggo, Persela Lamongan, Persiwa Wamena, PSS Sleman, Persiba Bantul, Persiwa Wamena, Persiman Manokwari.

Klub-klub di atas adalah one hits wonder. Muncul, moncer lalu modyarr. Muncul karena dijadikan sebagai alat kampanye dan menghimpun massa oleh calon bupati. Kemudian moncer karena si kepala daerah gila bola, rela menggelontorkan milyaran rupiah duit rakyat (APBD) untuk membeli pemain top. Lalu modyarr tanpa bekas karena kepala daerahnya sudah pensiun.

Baca Juga:   Vlog Freestyle Bareng Honda Win Romawi

Yang ngeness, enggak hanya lengser banyak kepala daerah klub-klub tersebut yang akhirnya jadi Narapidana. :mrgreen:

3. Nilai Kontrak Pemain Sepakbola di Indonesia terlalu mahal, tidak masuk akal.
Bintang-bintang sepakbola asal Malaysia (Safee Sali), Singapura (Baihaki Kaizan, M. Ridhuan, Nooh Alam Shah). Sangat senang bermain di Indonesia. Selain karena atmosfer stadion dan fans yang luar biasa. Nilai kontrak dan gaji mereka selama semusim 4 kali lipat lebih besar dari yang didapat di liga Malaysia atau liga Singapore.

Keempat pemain timnas negeri jiran itu mendapat nilai kontrak 1-2 Milyar untuk satu musim kompetisi. Padahal saat bermain di negaranya, mereka cuma dapet 500-700juta rupiah saja.

Kenapa bisa njomplang begini? Karena demi memburu prestasi instan dan sebagai ladang kampanye kepala daerah. Jika prestasi persik moncer, maka bupatinya pasti joss.

4. Pertandingan kandang malah merugi.
Rata-rata biaya satu kali pertandingan kandang bagi tim-tim ISL adalah 100 juta untuk sewa stadion, biaya personel panpel dan keamanan.

Rata-rata kapasitas stadion tim ISL adalah 15.000 penonton, tapi kurang dari separuh penonton saja yang membeli tiket. Karena untuk supporter setia “ultras” justru mendapat gratisan demi memuluskan sang ketua menjadi kepala daerah.

Baca Juga:   Warga Madiun Rekam Aksi Razia dan Langsung Menegur Petugas Tentang Kesalahan Prosedurnya

Walhasil, total penjualan tiket rata-rata tim ISL hanya 100-200 juta saja. Stadion akan sepi jika disiarkan langsung oleh TV dan lawan yang dihadapi tim papan bawah sehingga malah merugi.

5. Tanpa Prestasi
Terakhir kali PSSI mengukir prestasi tahun 1991 saat Juara Sea Games dan format kompetisi memakai Perserikatan dan Galatama.
Tahun 1994, Galatama dibubarin. Dilebur jadi satu dengan perserikatan menjadi Liga Indonesia dibawah kendali total PSSI, sejak saat itu tak ada lagi prestasi.

6. Hukuman dan Sanksi Pemain Bisa Dibeli dengan Grasi dari Ketua Umum.
Nurdin Halid menjadi sosok paling dibenci oleh pecinta Liga Indonesia karena beberapa kali membatalkan hukuman komisi disiplin pada pelanggaran berat pemain. Seperti kasus Kurnia Meiga dan Gonzales. Tradisi Grasi itu terus berlanjut sampai sekarang, kasus terbaru pada sepakbola Gajah PSS Sleman vs PSis Semarang.

7. Hampir semua klub ISL dan Divisi Utama menunggak gaji pada pemain. Bahkan yang terparah ada pemain asing yang sampai mati di Indonesia karena menanti gaji.

8. Mendirikan Persebaya tandingan dan menghapus Persebaya yang asli. Saat persebaya mendukung KPSI demi reformasi liga. PSSI mengubah nama Persikubar menjadi Persebaya.

roda2blog di sosial media

4 Komentar

  1. Khusus poin ke 8 :
    “Mngkin mksdnya ketika Persebaya yg asli maen di IPL y mas…Soale seinget ane KPSI tuh bentukane orang2 e Nurdin Halid…??

Tinggalkan Balasan