Baye Fall, Pengikut Tarekat Islam Sufi ala Bob Marley yang merevolusi Senegal dan Gambia

salah satu pengikut Baye Fall - google
Pengikut Baye Falle - Google
Pengikut Baye Falle – Google

Baye Fall adalah sebutan untuk pengikut Tarekat Sufi Sunni bernama Muridiyyah. Yang dianut oleh mayoritas muslim di Negara Senegal dan Gambia. Dalam hal berpakaian pengikut tarekat Muridiyyah ini mirip dengan kaum Rastafarian. Berambut gimbal dengan tutup kepala khasnya.

Tapi mereka sama sekali tidak mau disamakan dengan rastafarian. Walau ada diantara mereka yang juga menyukai musik Raggae, tapi mereka tidak sepaham dengan ajaran Rasta dan Bob Marley. Mereka hanya mengidolai Nabi Muhammad, pendiri tarekat dan para Marbout, imam wilayah dalam struktur organisasi Muridiyah.

Bagi pengamal ajaran Tarekat Muridiyyah, puasa Ramadhan bukanlah kewajiban sehingga boleh ditinggalkan. Dalam keyakinanya , setelah Syahadat Islam yang paling terpenting adalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Karena tujuan manusia adalah sebagai khalifah. Yang diartikan sebagai pekerja di bumi.

Secara harfiah, muridiyyah berasal dari bahasa Arab yang artinya orang-orang yang berkemauan keras. Yang diwujudkan dalam kerja keras sebagai perwujudan khalifah Allah di Bumi. Karenanya di Senegal dan Gambia, pengikut ajaran ini dikenal sebagai orang pekerja keras.

“Bekerja adalah aktivitas yang lebih baik ketimbang puasa dan sholat. Itulah prinsip yang masih kami yakini sampai detik ini,” Ujar Serigne Abdoul Aziz Fall, pemimpin tertinggi Baye Fall saat ini.

Baca Juga:   Selama Arus Mudik, Polisi Dihimbau Tidak Melakukan Tilang
Ahmad Bamba
Ahmad Bamba – wikipedia

Tarekat sufi ini lahir pada tahun 1885 ketika Senegal masih dibawah penjajahan Prancis. Pada awalnya ajaran Bamba dinilai oleh kolonial sebagai pergerakan pemberontakan dan dinilai mengancam bisnis perbudakan.

Bamba lalu diasingkan ke Gabon (1895-1902) dan Mauritania (1903-1907). Selama dalam pengasingan banyak sekali cerita mistis tentang “karomah” Bamba.

Diantaranya, saat dirinya dikurung bersama Singa dan ternyata sang singa malah mengajaknya tidur selayaknya induk pada anak. Lalu saat dirinya lumpuh karena siksaan selama di kapal dalam perjalan ke Gabon. Ketika dinaikkan di atas sampan dengan harapan agar mati di laut, ternyata malah sembuh.

Begitu juga saat di bakar oleh penjajah Perancis di dalam pembakaran tembikar, ternyata masih hidup sehat dan bahkan mengaku saat dibakar tadi sedang minum teh dengan Nabi Muhammad.

Tahun 1910, kolonial Perancis menyadari bahwa ajaran Baye Fall bukanlah ancaman bagi kelangsungan bisnis perbudakan. Selepas diizinkan kembali dari pembuangan di Mauritania. Bamba makin gencar mengajarkan Tarekat Muridiyahnya.

Ajaran Muridiyyah yang mengajarkan pengikutnya untuk bekerja keras demi pembangunan di muka bumi, menarik minat Perancis yang membutuhkan tenaga kerja yang loyal dan berupah murah. Selama penjajahan Perancis, para pengikut Muridiyyah kemudian berjasa sangat besar dalam pembangunan infrastruktur Senegal dan Gambia.

Baca Juga:   Daihatsu Terios 2018 Meluncur Menyusul Toyota Rush 2018

Bahkan Ibrahim Fall, pemimpin kedua setelah Bamba, meninggal dunia ketika ikut bekerja mengerjakan rel kereta api yang membelah Senegal, antara kota Diuorbel ke Touba. Sebagai balas jasa, Perancis mengizinkan dan membantu pembangunan masjid di kota Touba yang dijadikan pusat gerakan ajaran Bamba.

800px-Touba_moschee
Masjid Touba – wikipedia

Walau meyimpang dari ajaran pokok rukun Islam, tapi pengaruh ajaran Muridiyyah telah menjadikan Senegal dan Gambia sebagai negara paling aman di Benua Afrika. Terbebas dari kisruh pemberontakan, kudeta perang saudara maupun kemiskinan.

Dalam hal pendidikan, mereka memberi perhatian khusus pada kemampuan menghafal al-Quran sejak masa kanak-kanak. Di Kota Touba, terdapat banyak halaqoh yang melatih anak-anak menghafal al-Quran.

Para penghafal alQuran di Kota Touba Senegal - wikipedia
Para penghafal alQuran di Kota Touba Senegal – wikipedia

Proses kemerdekaan dua negara ini juga tidak melalui konflik berdarah-darah khas benua tersebut. Pengaruh “Marbout” (pemimpin Tarekat Muridiyyah berdasarkan pembagian wilayah) turut menyumbang peran penting bagi pembangunan Sumber Daya Manusia di dua negara tersebut.

salah satu pengikut Baye Fall - google
salah satu pengikut Baye Fall – google

Sob, walaupun berbeda dengan kita di Indonesia, tapi mereka tetaplah satu hati dalam Islam. Ajaran Muridiyyah terbukti sukses membawa kedamaian di Senegal dan Gambia. Semoga juga demikian dengan Islam di Indonesia.

roda2blog di sosial media

6 Komentar

  1. Jika hidup di Indonesia kayake akan banyak golongan lain yg bakal memusuhinya. FPI misalnya (dan golongan mainstream lainnya), apa mau legawa dg pandangan mereka bahwa puasa yg merupakan bagian dari rukun iman boleh ditinggalkan?!

    Mengapa mereka bisa hidup damai?? Karena tidak ada golongan lain (terutama mayoritas) yang mengganggu kehidupan keagamaan Baye Fall.

    Mungkin pelajaran yg dapat kita petik dari fenomena di atas adalah: saat kita mengusik keyakinan (ritual) orang lain di saat itulah benih permusuhan kita tebarkan. Maka tunggulah ‘ketidakdamaian’ masyarakat pasti akan datang!!

    Mau bukti? Tidak perlu jauh-jauh ke Timur Tengah. Lihatlah kehidupan kelompok Ahmadiyah dan Syiah di Indonesia.

Tinggalkan Balasan