Sejarah Pesawat Hercules di TNI. Saksi Sejarah Kekalahan Amerika dalam Perang Permesta

Hercules-C-130-TNI-AU
Hercules C130 TNI AU foto: tni.mil.id

Kabar duka kembali menggelayuti TNI Angkatan Udara. Sebuah pesawat C-130 B Herkules jatuh di Medan. Kurang lebih 116 penumpang dan awak pesawat dinyatakan meninggal dunia. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan YME.

Ditilik sejarahnya, pesawat angkut Hercules ini lebih dari sekedar kendaraan perang. Dia adalah monumen terbang yang menunjukkan kemenangan Indonesia atas upaya invasi pecah belah Amerika.

Indonesia pertama kali menerima 10 pesawat herkules tipe C-130B dari pemerintah Amerika Serikat sebagai penukar tawanan, diplomat dan agen CIA Allen Pope yang terlibat membantu pemberontakan Permesta di Sulawesi pada tahun 1958. Sekaligus menjadikan Indonesia pengguna pertama C130 B di luar AS pada 1960

Dalam pemberontakan tersebut, keterlibatan Amerika Serikat benar benar terlihat,dengan mendatangkan penasehat penasehat militernya. Serta memberikan sejumlah bantuan berupa Amunisi, mitraliur anti pesawat terbang. Mereka juga mendatangkan sejumlah pesawat terbang antara lain pesawat pengangkut DC-3 Dakota, pesawat pemburu P-51 Mustang, Beachcraft, Consolidated PBY Catalina dan pembom B-26 Invader.

Baca Juga:   Protes Jalan Rusak, Polisi Demak Tebar Lele Di Lobang Jalan

Pada akhirnya, TNI dengan gemilang menghancurkan Permesta yang disokong Amerika tersebut. Dan mengancam akan menembak mati Allen Pope sang agen CIA, penasehat militer serta diplomat yang melobi negara-negara tetangga untuk mendukung Permesta. Seperti Taiwan, Korea Selatan, Philipina serta Jepang.

Sedangkan pesawat yang jatuh kemungkinan adalah jenis C-130B yang diterima Indonesia pada tahun 1975. Pesawat ini bagian dari program selamat datang di blok barat, saat itu Indonesia diembargo oleh Uni Sovyet paska kasus PKI 1965. Bersamanya juga hadir pesawat hibah F-86 Sabrejet dari Australia.

Pada tahun 1980-an, di bawah program untuk meningkatkan kemampuan angkatan udara Indonesia, didatangkan 3 buah C-130H, 7 C-130HS (long body), 1 C-130 MP (patroli maritim), 1 L-100-30 (untuk keperluan sipil), dan enam L-100-30s yang dioperasikan oleh PT Merpati dan Pelita Air untuk keperluan transmigrasi. TNI AU juga mengoperasikan 2 KC-130 (versi air refuelling C-130) untuk keperluan pengisian bahan bakar di udara (sampai hari ini masih beroperasi).

Baca Juga:   Ukuran Ban Honda PCX 150 Lokal 16inchi Cocok Buat Suzuki Hayate

Pada tahun 1999 Senat Amerika Serikat mengeluarkan larangan penjualan senjata dan pembekuan hubungan militer dengan Indonesia, yang berkaitan dengan krisis Timor-Timur. Ini menyebabkan 17 pesawat C-130 tidak layak terbang karena tidak adanya suku cadang. Meski beberapa pesawat masih dipaksa terbang dengan suku cadang dari negara lain. Total ada 8 dari 24 yang bisa terbang.

Tahun 2005 di bawah pemerintahan SBY dicanangkan peremajaan Skuadron Hercules. Keputusanya dengan mengambil opsi hibah 4 unit ditambah dengan membeli 5 unit bekas seri H dari AU australia.

Ini adalah hercules kedua yang jatuh, yang pertama jatuh di Magetan 20 Mei 2009. Semoga tak ada lagi yang ketiga.

Puing pesawat Hercules yang jatuh dan tim SAR yang melakukan evakuasi. AFP PHOTO / KHARISMA TARIGAN
Puing pesawat Hercules yang jatuh dan tim SAR yang melakukan evakuasi. AFP PHOTO / KHARISMA TARIGAN

 

 

 

4 Komentar

  1. sorry ralat, Hercules pertama yang jatuh itu di Condet tahun 1991, ini justru kejadian yang ke 3 Hercules jatuh di Indonesia. thank’s.

Tinggalkan Balasan