Mati Karena Kecelakaan Sepeda Motor Termasuk Mati Syahid

Kecelakaan Sepeda Motor di Sekelip Ponorogo. foto: r2b.com
Kecelakaan Sepeda Motor di Sekelip Ponorogo. foto: r2b.com

Suatu ketika Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya, sebagaiman termaktub dalam kitab Hadist Imam Ahmad berikut ini. Diriwiyatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ قَالُوا الَّذِي يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يُقْتَلَ قَالَ إِنَّ الشَّهِيدَ فِي أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ الْقَتِيلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ شَهِيدٌ وَالطَّعِينُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ شَهِيدٌ وَالْغَرِيقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ شَهِيدٌ وَالْخَارُّ عَنْ دَابَّتِهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ شَهِيدٌ وَالْمَجْنُوبُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ شَهِيدٌ قَالَ مُحَمَّدٌ الْمَجْنُوبُ صَاحِبُ الْجَنْبِ

Rasulullah SAW bersabda “Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?”
Mereka menjawab, “Yang berperang di jalan Allah sampai mati”
Beliau bersabda, “Kalau begitu yang mati syahid dari umatku sedikit?, orang yang terbunuh di jalan Allah adalah mati syahid, orang yang meninggal karena tha’un di jalan Allah adalah mati syahid, orang yang tenggelam di jalan Allah adalah mati syahid, orang yang jatuh dari hewan tunggangannya di jalan Allah adalah mati syahid dan orang yang sakit perut (lambung).” 

Hadist serupa juga diriwayatkan oleh Muslim, Nasa’i dan Abu Dawud dengan sanad sohih.

Baca Juga:   Majapahit vs Samudera Pasai: Siapa Dijajah Siapa? (ilusi Majapahit 3)

Ulama hadist sepakat bahwa yang dimaksud dalam hadist ini adalah Syahid di akhirat. Yaitu mendapat pahala mati syahid secara utuh walau di dunia jenazahnya tidak diperlakukan sebagaman Syuhada di medang perang.

Di zaman modern ini, hewan tunggangan telah digantikan oleh sepeda motor. Tentunya tidak serta merta orang yang mati terjatuh dari sepeda motor langsung mendapat pahala Syahid. Karena di sana Rasulullah mensyaratkan fi sabilillah.

Fi Sabilillah bermakna berada dalam jalan menuju keridlaan Allah, bukan sekedar berjihad perang. Contohnya: Perjalanan dalam mencari ilmu dari rumah sampai sekolah atau majlis taklim. Perjalanan untuk mencari nafkah yang halal untuk keluarga. Termasuk juga perjalanan untuk menjalin tali silaturrahmi.

Baca Juga:   Situs Watu Dukun Ponorogo, Peninggalan Raja Airlangga dan Dharmawangsa

Bila berkendara sambil mabuk atau tujuanya nonton dangdut, jelas bukan termasuk Fi Sabilillah tapi Fi SabiliSyaiton.

Beberapa ulama memberi syarat untuk menjaga adab selama berkendara sesuai sunnah/kebiasaan Nabi agar terjaga dalam maksud fisabilillah. Seperti membaca doa sebelum dan sesudah berkendara. Memperbanyak dzikir selama berkendara.

Serta tidak mendengarkan musik selama berkendara, agar terhindar dari perkara syubhat. Tentu enggak enak kan bila sakaratul maut sedang ditelinga kita dibisiki lagu “neraka jahannam“. 

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ طَلَبَ الشَّهَادَةَ صَادِقًا أُعْطِيَهَا وَلَوْ لَمْ تُصِبْهُ

“Barangsiapa yang memohon syahadah (mati syahid) dengan jujur, maka dia akan diberikan (pahala) syahadah meskipun dia tidak mati syahid.” HR. Muslim.

roda2blog di sosial media

9 Komentar

Tinggalkan Balasan