Politik Soekarno dan IMF, Mewariskan Inflasi Abadi Bagi Indonesia.

image

Saat menyebut IMF, maka serta merta ingatan banyak orang tertuju pada mantan Presiden Soeharto. Seakan-akan Indonesia digadaikan olehnya pada IMF.

Sejatinya, Presiden Soekarno lah yang telah menggadaikan Indonesia pada IMF. Indonesia memasukkan lamaran menjadi anggota pada 15 Agustus 1952. Kemudian resmi menjadi anggota tahun 1953, atas permintaan Presiden Soekarno melalu menteri keuangan Sutikno. Secara legal, keanggotaan itu disahkan dengan UU No 5/1954.

Awalnya dana dari IMF ditujukan untuk pembangunan infrastruktur yang hancur lebur paska perang kemerdekaan. Tapi kemudian salah arah dihabiskan perang Irian dan ambisi politik Soekarno dalam Konfrontasi dengan Malaysia.

Hal tersebut menyebakan defisit anggaran tahun 1957 tiga kali lipat, lalu pada pada 1958-1960 menjadi dua kali lipat lagi. pada Agustus 1956 pemerintah Indonesia memperoleh pinjaman IMF sebesar US$55 juta karena inflasi kembali berkecamuk disebabkan defisit anggaran yang meningkat dan cadangan devisa menurun cepat.

Baca Juga:   Suzuki Intruder 150 Resmi Dirilis, Harga 20Jutaan Tampilan Ala Ducati Diavel

Untuk mengatasinya pemerintah mencoba mencetak uang baru yang malah memperparah krisis, tahun 1960-1966. Hingga terjadi hyper inflasi, mata uang sama sekali tak bernilai dan bahkan negara sampai tak mampu mencetak uang kertas.

Hal tersebut diperparah dengan ambisi politik Soekarno dalam Konfrontasi dengan Malaysia. Saat rakyat menderita karena harga-harga yang melambung tinggi, anggaran belanja negara justru dihabiskan untuk perang.

Soe Hok Gie menyebut rezim Soekarno adalah personalisasi kekuasaan yang menggila. Negara dijadikan sumber pembiayaan bagi pesta-pesta pribadi Soekarno. Tipikal raja Jawa yang doyan pesta dan wanita.

Tahun 1967-1970 saat Soeharto menjadi presiden berkuasa. Indonesia dihadapkan pada dua hutang besar, pada IMF (blok barat) dan Uni Sovyet.

Baca Juga:   Kesan Pertama Suzuki Ignis, City Car Yang Ganteng

Dengan cerdik Soeharto memilih untuk mengemplang (menolak bayar) hutang pada Sovyet. Seperti kasus Argentina (th 2000an) dan Yunani saat ini.

Walhasil, ekonomi Indonesia dapat tumbuh pesat di zaman Soeharto dengan sokongan dari negara-negara barat. Sedang dalam hal militer terpaksa agak tersendak karena Sovyet membalas dengan embargo, padahal alutsista TNI banyak dari sono.

Akibat besarnya rasio hutang negara di era Soekarno. Ekonomi kita memiliki inflasi laten yang susah disembuhkan yang berasal dari salah satunya dari defisit anggaran.

roda2blog di sosial media

Tinggalkan Balasan