Kisah Hidup Purdie E Chandra, Milyuner Hutang Asal Jogja

Lulusanya emang banyak yang gila beneran akhirnya sob.
seharusnya juga ditulis, Milyuner Hutang Asal Jogja

Saya menulis kisah hidup Pak Purdie ini bukan bermaksud untuk menjelekkan beliau. Sekadar kaca pengalaman, sekaligus sebagai bukti kebenaran teori berbisnis yang saya yakini selama ini.

Dalam alQuran tertulis:
Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Saya tidak akan membuka perdebatan mengenai “bank konvensional vs bank syariah”. Riba dalam ayat tersebut saya terjemahkan sebagai pinjaman berbunga.

Doktrin bisnis Pak Purdie adalah bagaimana berhutang bank sebanyak-banyaknya. Kebetulan saya pernah ikut EU angkatan ke-3 di Ponorogo. Dan beberapa rekan saya yang men-taqlid begitu saja dakwah pak Purdie sekarang terjerat hutang.

Baca Juga:   Honda New Megapro 2011: Deltabox plus Radiator ... hmmm

Hutang bank itu sama seperti mengundang jaelangkung masuk ke dalam bisnis kita. Datangnya diundang, disuruh pulang susahnya minta ampun.

Dulu Purdie adalah pemilik Primagama dengan omset mencapai 600juta / bulan. Tapi setelah keputusan pailit terkait kredit macet BNI Syariah sebesar 20Milyar dan gugatan dari 3 kreditor kakap. Total hutangnya mencapai hampir 40Milyar.

Primagama pun melayang diakuisisi investor demi menutup hutangnya. Ternyata masih ada hutang pajak sebesar 1,2 Milyar yang akhirnya menjebloskanya ke LP Wirogunan Jogjakarta pada Mei 2014.

Semakin banyak berhutang bank, itu sama saja semakin banyak jaelangkung merasuki tubuh. Berdiri tak tegak, jalan sempoyongan, angan-angan yang penuh ilusi berasa benar.

Bukan berarti saya anti terhadap hutang bank. Berhutang untuk menambah modal kadang memang diperlukan. Tapi hutang bank harus bisa dilunasi sesuai jadwal. Jangan sampai take over walau bank lain menjanjikan penambahan plafond. Apalagi top up tambah hutang sebelum waktu habis masa cicilanya.

Baca Juga:   Ditilang Kena Razia, Anak Polisi Ini Telepon Papa

Jangan pernah berharap bisa membodohi bank untuk meraih untung, seperti doktrin “goreng rekening” ala pak Purdie. Itu sama seperti cicak berusaha memakan buaya. :mrgreen: atau kadal mengadali kadal.

Perbankan bukanlah lembaga jual beli yang mau untung dan rugi. Dalam hubunganya dengan nasabah, perbankan selalu meminta “untung” dan “untung” blass gak mau buntung sepeser pun.

Hanya sekadar sharing sob. Bila bisnis/dagang jangan buru-buru ambil hutang bank. 😉

Klo kata Om Bob. :”Bila butuh modal, dahulukan menambah jam kerjamu, mengurangi gaji dan waktu istirahatmu. Sebelum mengambil hutang bank”

roda2blog di sosial media

24 Komentar

  1. josss….kalo dalam kasus saya, pak purdi yang berhutang ke saya dan beebrapa teman lain….dan sampai sekarang ora jelas neng ndi wonge…. *jik kesel karo wong siji iki…

  2. Alhamdulillah, tanpa hutang itu hidup terasa santai kayak dipantai… 😀
    tp terus terang, ane berani buka usaha ya gara2 baca bukunya purdie chandra ini…tp Alhamdulillah tidak katut metodenya yang hutang sebanyak-banyaknya..tp pake rumus modal dari orang lain/ partner… 😀

  3. para bankir, adalah pemilik sesungguhnya dari kekayaan dunia.
    1790 – Mayer Amschel Rothchild berkata,“Biarkan saya menerbitkan dan mengontrol uang sebuah Negara dan saya tidak peduli siapa yang menulis hukumnya.”

Tinggalkan Balasan