Ditolak TNI Ikut Latihan Kelas Raider, Polri Minta Bantuan Negara Lain Untuk Latih Brimob

Brimob dengan seragam baru, loreng militer. Foto:okezone
Brimob dengan seragam baru, loreng militer. Foto:okezone

Mabes Polri membuka peluang untuk menjalin kerjasama dengan militer negara lain guna memperkuat pasukan Brimob. Tujuannya adalah meningkatkan kemampuan “perang gerilya” pasukan brimob agar mahir memberangus teroris di hutan. Termasuk memberangus kelompok teroris Santoso Cs, di hutan belantara Sulawesi Tengah.

Sebelumnya, KaPolri Jenderal Badrodin Haiti sudah mengirim surat permohonan kepada Panglima TNI agar personel Korps Brimob Polri diikutkan dalam Pendidikan dan Latihan Raider di Pusdiklat Kopassus, Batujajar, Bandung, Jawa Barat.

Sayangnya, permintaan tadi ditolak. Panglima TNI hanya bersedia memberikan izin latihan di Resimen Induk Daerah Militer (Rindam) yang ada, bukan kelas Raider.

Haiti mengatakan, memang Polri membutuhkan suatu kemampuan untuk melakukan penjajakan dan operasi di hutan. Sebab, operasi menumpas teroris di hutan berbeda dengan di kota. Kemampuan itu yang dibutuhkan Brimob

Baca Juga:   Maling Motor Digerebek

“Saya pikir kalau di Rindam sama dengan latihan-latihan (biasa) lain. Oleh karena itu kami terima tawaran dari beberapa negara,” jelas Kapolri seperti dilansir JPNN.

Karenanya alternatif yang ditempuh Polri adalah dengan menjalin kerjasama dengan Inggris. “Kalau memang dari TNI tidak melakukan, kami bisa mendapat dari beberapa negara lain. Salah satunya Inggris,” ujarnya.

Nantinya, kata dia, pasukan Brimob akan dilatih di suatu tempat tertentu oleh pelatih dari Inggris. “Pelatih dari kepolisian (Inggris) ada, dari militer juga ada,” ujarnya.

Latihan itu, lanjut dia, disesuaikan dengan kemampuan yang dimintakan Polri untuk personel-personel Brimob. Sejauh ini, kata dia, pihaknya masih terus menjajaki komunikasi dengan Inggris. “Kami akan jajaki dulu,” tegasnya seraya menambahkan program ini belum dimulai.

Baca Juga:   HONDA CBR buat JUALAN SAYUR

Untuk diketahui, bahwa prajurit kelas Raider bukanlah kelas biasa. 1 Batalyon Raider setara dengan 3 batalyon biasa. Prajurit Raider memiliki kemampuan Para Komando setingkat di bawah Kopassus.

Raider dihidupkan kembali di era KSAD Ryamizard Ryacudu dan biasanya ditempat di daerah-daerah perbatasan negara yang rawan konflik dengan Tetangga seperti Malaysia.

roda2blog di sosial media

14 Komentar

  1. mungkin Pak Badrotin merasa sudah perlu, tp TNI merasa belum perlu Polri sejauh itu (Raider), bisa juga emang Polri sudah ngincer tawaran dari negara lain, eh tapi hutan Inggris kan beda sama tropis atau latihan di persemakmuran Inggris yg tropis ya? Atau yg terakhir suuzon, ada proyek dibalik udang 😀

  2. Semakin runcing hubungan tni-polri… Semoga rakyat tidak jadi korban. Btw, kenapa gak diserahkan aja ke TNI tugas yg berat sekiranya polri belum mampu? Jangan saling pasang ego-lah, toh sama sama kerja untuk negara.

  3. Betul tuh, urusan terorisme serahkan aja ke TNI yg sudah terbukti mempunyai kemampuan anti teror yg sangat baik.
    Brimob fokus pengamanan kota dan anti huru hara.
    Lagi pula memangnya distujui oleh pejabat & menteri2, pasukan polisi kita dilatih negara lain(inggris) yg punya sejarah perang dengan tni.

  4. Itu gambar bukan pasukan Brimob deh, baretnya juga beda!

    Oh ya sebetulnya Kapolri Badrodin tanpa meminta bantuan TNI juga bisa aja langsung kirim anggotanya ke luar negeri kayak jaman Brimob Menpor rezim Soekarno dulu, ngga masalah malah terbukti sukses menpor Brimob dulu disegani TNI dan akhirnya dibubarkan rezim Soeharto yang ketakutan akan kehebatan menpor Brimob yang terbukti pada jaman orde lama berhasil menumpas aksi kudeta dan aksi pemberontakan satuan-satuan TNI pada waktu itu…, cuma Kapolri Badrodin ini tahu diri juga menghargai lebih dulu minta ke saudaranya (TNI).

    Nah terbuktikan kalau TNI itu takut ngga mau berbagi transfer ilmu, maka Polri lebih baik minta bantuan pasukan elite negara luar sekalian seperti jaman dulu dan terbukti sukses.

    TNI sampai sekarang pun tidak mau bila kembali ke barak dan tidak berani bila di adili di pengadilan umum, bila saat damai ini ada anggotanya terlibat kasus pidana umum.

    Ya tau sama tau lah, gembong pemberontak di Poso itu oknum desersi Kopassus. Malah kondisi wilayah aman atau tidaknya di belahan Indonesia ini “diciptakan” oleh “oknum” unit-unit TNI terselubung yang spesialis propaganda dan membentuk opini public. Ujung-ujungnya sih proyek anggaran keamanan dari negara biar keluar buat bancakan pejabat TNI, makanya TNI sampai detik ini seperti lembaga superbody tanpa ada yang bisa dan tanpa ada yang berani mengkontrol tindak tanduknya, maklum TNI merasa warga negara kelas 1 yang mempunyai hukum/peradilan sendiri yang tertutup untuk umum prosesnya.

    Jujur yah, cuma di negara Indonesia ini yang dimana tentaranya kebal terhadap peradilan umum dan TNI selalu mempermasalahkan dengan irinya terhadap kewenangan saudaranya (Polri). Juga hanya tentara di negeri ini selalu ikut campur urusan sipil dalam negeri padahal negara dalam kondisi sudah damai.

    Polri yang terlanjur buruk citranya di mata rakyat malah dijadikan kesempatan buat TNI tebar pesona dan pencitraan.

    Saling berebut proyek pengamanan dsb, dan tanpa malu-malu tentara selalu ingin punya kewenangan polisional seperti jaman 32 tahun rezim Soeharto dulu, hebatnya TNI selalu lewat aksi cybernya propaganda kalau Polri terlalu militeristik, lah sedangkan mereka TNI bicara begitu tanpa sadar dirinya yang militer selalu ingin punya kewenangan polisional.

    • Banyakan menghayal loe tong…pemberontakan satuan2 yg melibatkan TNI mana ada yg di tumpas sendiri oleh brimob…?? Ada juga operasi gabungan..gaya brimob aja sok niru2 militer..padahal brimob tuh sipil …

      • Pada perang kemerdekaan tahun 45 jauh sebelum ada POLRI dan TNI, yang namanya Brimob (Mobrig) sudah lebih dulu ada dari TNI, bahkan Brimob sudah lebih dulu ada dari POLRI sendiri!
        Lu tau perang 10 November (hari Pahlawan) di Surabaya?
        Para saksi sejarah bilang : “Omong kosong kalau dulu sudah ada pasukan bersenjata TNI pada peristiwa 10 November, yang ada hanya pasukan resmi Brimob (Mobrig) pimpinan Inspektur M.Jasin dengan bobot tempur tinggi yang menjadi motor Bung Tomo dan para rakyat pejuang!”
        Lu belajar dan cari referensi tentang sejarah asli Indonesia yang sebenarnya dulu, baru lu argumen!
        Lu tau pemberontakan satuan satun TNI era 45 – 65 pada jaman orde lama? dari mulai PKI Muso, DI/TII, G30S PKI dll itu semua melibatkan satuan TNI pada masa orde baru, jaman orde baru yang superior itu cuma Brimob dan KKo (marinir AL) yang terbukti 2 pasukan elit ini setia kepada NKRI dari Jaman orde lama sampai sekarang!
        Lu tanya sama para veteran dulu yang masih hidup sampai sekarang, Brimob dulu disegani TNI dan pada awal kemerdekaan justru Brimob yang membidani dan melatih BKR/TKR cikal bakal TNI. dan hal ini sampai sekarang tidak akan pernah diakui oleh TNI itu sendiri yang seperti kacang lupa kulit!
        Maaf yah kalau mau belajar sejarah asli yang sebenarnya, jangan belajar sejarah dari pelintiran orde baru!
        Polisi dan Brimob memang spesialis buat pengamanan dalam negeri dan statusnya bukan angkatan perang.
        Sekarang bentrok antar satuan Tentara vs Polisi itu cuma ada di negara Indonesia ini bung, pada tertawa tuh negara tetangga! Kalau TNI dari dulu tunduk terhadap hukum sipil dan peradilan umum, mereka ngga akan punya nyali buat nyerang markas polisi spt yang sudah sudah!
        Lu asal nyamber aja ngga baca komentar detail gw dulu spt apa, ketauan tingkat nalar lu tong!
        Gw ngga perlu kasih bukti link yang menguatkan hal ini yah, kalau gw kasih link semua ngga akan cukup bahasan secara lengkap di kolom komentar ini!
        Maaf buat yang punya blog sudah bikin gaduh dan terimakasih atas kesempatannya!

        • Peran serta pengabdian Korp Brigade Mobile ( Brimob) dalam perjalanan sejarah Republik Indonesia tidaklah bisa dipandang sebelah mata. 10 november 1945 yang dikenal sebagai hari pahlawan dewasa ini adalah salah satu titik awal pengorbanan para Bhayangkara dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang masih muda saat itu. Korps tertua di Indonesia yang pada masa penjajahan Jepang dikenal dengan nama Tokubetsu kaesatsutai ini di bawah pimpinan Insepektur Polisi Moehammad Yassin mempelopori pecahnya pertempuran 10 november di Surabaya. Saking dasyat dan banyaknya yang gugur dalam peristiwa tersebut, Truk – truk pengangkut pasukan yang di dipakai sebagai lindung tembak banyak dilumuri oleh darah para Bhayangkara yang terluka atau gugur terutama bagian ban truk sehingga untuk mengenang peristiwa tersebut, sampai sekarang warna ban alat transportasi Brimob selalu di cat warna merah di bagian tengah bannya. Untuk menguatkan peran dan keterlibatan Brimob dalam peristiwa tersebut, Ruslan abdulgani tokoh pejuang yang turut berperan aktif dalam palagan 10 november 1945 pernah berkata ” Pasukan Polisi Istimewa lahir lebih dulu daripada yang lainnya. ” Sementara Mayjen ( purn ) TNI AD Sudarto, mantan ajudan Presiden Soekarno menjelaskan secara gamblang, ” Omong kosong,jika ada yang mengaku dalam bulan agustus 1945 memiliki pasukan bersenjata, yang ada hanya Pasukan Polisi Istimewa.Tanpa pasukan ini tidak akan ada hari pahlawan 10 november .” Mayor TNI AD ( Purn) R Kadim Prawirodirjo meneguhkan ucapan Mayjen ( pur ) Sudarto, dengan tegas beliau mengatakan, pada saat pelucutan senjata tentara Jepang, TKR belum terbentuk. Pada waktu itu hanya ada Polisi baik Umum, Central Special Police dan Polisi istimewa yang memiliki senjata.Merekalah yang mempelopori pelucutan senjata Jepang. Selain itu Pasukan Brimob banyak diterjunkan memadamkan gerakan separatis yang merongrong NKRI. Resimen Pelopor salah satu kesatuan yang pernah di Miliki Korp baret biru ini pada awal kemerdekaan banyak terlibat dalam operasi pemadaman pemberontak seperti DI/ TII Kartosuwiryo ( Jawa barat 1949 ) Andi Aziz ( Makassar 1950) RMS ( Maluku selatan 1950) Qahar muzdakar ( Sulsel 1951) APRA ( Bandung 1952) PRRI ( Sumatera 1957) Daud beureuh ( Aceh 1950) GAM dan sebagainya. Pada era keemasan Resimen Pelopor merupakan mesin perang yang efektif dan efisien. Gambaran ideal pasukan Khusus yang berani, berkemampuan tinggi, efektif dan efisien menjalankan tugas. Dimanapun diturunkan, dimanapun ditugaskan, para prajurit muda Menpor memiliki semboyan bahwa itu adalah penugasan terakhir sehingga memiliki semangat yang meluap-luap. Reputasi yang didapat pasukan ini bukan berasal dari serangkaian pencitraan, bukan pula mitos yang diagungkan melalui berbagai media layaknya mitos-mitos pasukan khusus yang di hembuskan sekarang. Resimen pelopor meraih melalui rangkaian panjang yang menuntut keuletan, keterampilan, ketabahan, ketahanan, keberanian dan upaya yang terkadang melampaui kesanggupan manusia normal. Sebenarnya, hal-hal tersebut adalah biasa bagi prajurit mengingat harus siap diturunkan di berbagai medan. Yang membedakannya, atau yang membuat mereka layak diberi sandangan pasukan khusus adalah hasil dan kearifan mereka dalam menjalankan tugas. Sehingga tak heran Presiden Indonesia pertama Ir. Soekarno menganugerahinya sebagai pasukan pertama yang menerima penghargaan SAKANTI YANO UTAMA. Perjalanan waktu menenggelamkan Menpor dalam palung yang terdalam. Pergantian penguasa, keberlangsungan pasukan ini pun berakhir. Kerja keras, pengorbanan dan risalah mereka turut terkubur seolah mereka tidak pernah ada. Ironis lagi, kehebatan sejak orde lama awal orde baru nyaris tak tertulis dalam sejarah dan hanya menjadi cerita pengantar tidur anak-anak, cucu, dan saudara terdekat mantan anggota pasukan tersebut. Dewasa ini meskipun telah berganti status dari Militer menjadi Sipil yang dipersenjatai. Sebagai salah satu kesatuan andalan POLRI yang bertugas menanggulangi kejahatan berintensitas tinggi, setiap personil Brimob di tuntut prima dan bugar baik fisik maupun Psikis. Sifat arogan wajib ditinggalkan tapi mahir dan terlatih adalah modal dalam bertugas. Ramah dan santun terhadap Masyarakat, Tegas terhadap penghianat.
          Dari berbagai sumber ASLI.

          • Terbongkarnya konspirasi CIA untuk menggulingkan pemerintah Indonesia membuat panik pemerintah Amerika Serikat. Amerika Serikat dan CIA kemudian membuat manuver untuk ”mengambil hati” Bung Karno. Langkah pertama yang dilakukan pemerintah AS adalah memberikan bantuan militer bagi Indonesia dengan mendidik para perwira militer Indonesia di AS.
            Pada masa tahun 1950-an Brigade Mobil (Brimob) merupakan tulang punggung utama Polri bersama dengan kesatuan Perintis sebagai kesatuan pelapisnya. Pada masa itu, pendidikan Brimob di berbagai Sekolah Polisi Negara (SPN) mempunyai materi dasar-dasar kemiliteran dan infanteri. Pendidikan dasar berupa teknik bertempur level peleton, menembak ahli dan gerakan tempur mulai regu sampai dengan batalyon diajarkan. Pendidikan menjadi tamtama Brigade Mobil memerlukan waktu 13 bulan, bandingkan dengan pendidikan tamtama TNI AD waktu itu yang hanya memerlukan waktu 4 bulan. Konsekuensinya jumlah kompi Brimob yang ada pada waktu itu juga tidak cukup untuk mengatasi konflik bersenjata di daerah. Hal ini yang kemudian memunculkan ide membentuk pasukan khusus untuk keamanan dalam negeri dengan kualifikasi lebih tinggi dari Brimob.
            Pada tahun 1950-an ada beberapa perwira Polri dari Mobile Brigade (Brimob) yang mendapatkan kursus infanteri lanjut di Fort Lavenworth dan Fort Bragg di Amerika Serikat. (Pour, 2007, h 78). Diantara mereka adalah Inspektur Anton Soedjarwo. Mereka mendapatkan pendidikan infanteri karena presiden Soekarno memang sengaja tidak mengirim ”para pesaing”nya dari perwira Angkatan Darat. Kebetulan para perwira yang mendapatkan pendidikan di AS itu adalah mantan Tentara Pelajar (TP) sehingga presiden Soekarno mempunyai argumen kuat untuk mengirimkan para perwira Polri tersebut.
            Brigade Mobil juga mendapatkan ”berkah” dari aksi permintaan maaf oleh pemerintah Amerika Serikat ini. Pada bulan Januari 1959, pemerintah AS memberikan bantuan pelatihan militer dan senjata kepada Brigade Mobil dari Kepolisian Republik Indonesia. Ada 8 perwira polisi yang dididik di Okinawa (pangkalan marinir AS) sebagai kontingen pertama. Selanjutnya pada bulan September 1959 kompi pertama Brimob Ranger telah dibentuk. Pada pertengahan 1960 kontingen kedua perwira polisi Indonesia kembali dididik menjadi Ranger.
            Pasukan Ranger dari Brigade Mobil ini dibentuk untuk mengatasi pemberontakan bersenjata dalam negeri. Meskipun instruktur pelatihan Ranger ini sebagian besar dari marinir AS di Okinawa namun pola latihan mereka merupakan gabungan dari Ranger AD AS dan pasukan Recon USMC (United States Marine Corps). Selain mendapatkan pelatihan, pada pertengahan 1960, Ranger Brigade Mobil (saat itu namanya berubah menjadi Pelopor) mendapatkan bantuan senjata senapan serbu AR 15 yang merupakan versi awal atau versi non-militer dari M 16 A1. Pasukan Menpor adalah salah satu pengguna pertama senjata ini, bahkan pada saat itu pasukan reguler batalyon Infanteri AS yang ditugaskan di Vietnam sebagai
            observer masih menggunakan senjata M 1 Garrand.
            Sejak awal pembentukan korps Kepolisian Republik Indonesia memang lebih dekat perannya sebagai combatant daripada sebagai polisi sipil. Kondisi masa perjuangan waktu itu, menyebabkan polisi harus terlibat langsung dalam perjuangan bersenjata. Keterlibatan polisi sebagai combatant dipelopori oleh satu kompi Polisi Istimewa pimpinan Inspektur Polisi M Jassin dalam pertempuran Surabaya 10 November 1945.
            Pada masa itu Polisi Istimewa merupakan sebuah korps kepolisian bentukan Jepang dengan persenjataan lengkap. Namun karena kekosongan pemerintahan pasca penyerahan Jepang pada Sekutu tahun 1945, peran Polisi Istimewa lebih berperan sebagai pasukan pertahanan. Selanjutnya pada tahun tanggal 14 November 1946, PM Syahrir meresmikan korps Polisi Istimewa menjadi korps Mobile Brigade, sebagai bagian dari Polri dengan fungsi sebagai combatant karena kebutuhan pertahanan waktu itu. Tanggal 14 November ini selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Korps Brigade Mobil.

  5. fotonya salah brur..itu bukan foto brimob dan lorengnya..tp foto kostrad, liat warna baret dan loggo khas kostradnya, baretnya jg miring ke kanan..kl brimob baretnya warna biru dongker..karena polisi..maka baretnya miring kekiri.

Tinggalkan Balasan