Razia Pedagang Retail Elektronik Memang Ngawur, Banyak Toko Pilih Tutup

image

Dengan alasan memerangi barang selundupan yang masuk ke Indonesia tidak resmi dan tidak sesuai kaidah elektro NKRI. Para pedagang di sentra elektronik terbesar negeri ini, Glodok, Mangga Dua, Roxy dkk di DKI di Razia polisi dan satpol PP.

Tapi para eksekutor razia itu banyak ngawurnya soob. Bagi mereka, kemasan produk yg tak mencantumkan bahasa Indonesia, tidak ada label SNI, langsung sita aja tanpa ganti rugi ke pedagang.

Jiann …. Poll ngawurnya.

Jika memang demikian kenapa tidak importir atau distributor resminya aja yg ditindak. Yaa minimal suruhlah recall barangnya ditarik trus diganti kemasan berbahasa Indonesia.

image
Contoh kemasan produk tanpa label sni dan bahasa Indonesia

Contoh item barang yg masuk kategori kena razia adalah Hape “Infinix Hot 2” dan Action Cam Xiaomi Yi. Kemasan dua benda ini memang tak berbahasa Indonesia sama sekali.

Baca Juga:   Kaum Milenial Madiun-Kediri Siap Tampil Eksis di Fazzio Discofest

Tapi bukankah dua benda ini importir resminya itu jelas siapa perusahaannya? Kenapa gak sumber importir ini aja yg diproses hukum.

Lha kok malah pedagang retail?? Mereka-mereka itu sudah dicekik pajak 1% dari omset dan Pajak PKP pribadi. Ekonomi lagi susah. Ehhh bukanya ngasih insentif malah menyita dagangan, mengurangi jumlah modal usaha, menambah rugi …

Padahal berapa sih laba dari penjualan 1unit hape? Gak lebih dari 5% soobb. Samsung Galaxy j5 yg dijual rata-rata 2,750,000 itu harga kulakanya sekitar 2,600,000 soobb.

Samsung J1 yg jualnya sekitar 1,500,000 harga kulakanya sekitar 1,450,000.

Mi4i yg bandrolnya 2,799,000 harga kulakanya sekitar 2,650,000

Gitu itu itu Pak SBY diakhir masa Presiden nya … ya masih tega ngasih beban Pajak 1% dari omsett oooo jiann nemenn tenann.

15 Komentar

  1. kasihan pedagang2 tsb, bagaimana ekonomi bisa maju kalo kayak gini terus. Kemiskinan naik tajam. biarkan mereka cari nafkah dan bekerja mengurangi pengangguran, toh mereka2 sudah dibebani bayar pajak ke negara.

  2. yg saya tahu, untuk smartphone harus kandungan TKDN nya 20 % minimal.
    untuk product MIFI, juga sama. itu setahu saya.
    Kebetulan saya kerja di pabrik elektronik.
    jadi, disisi lain, razia seperti ini bagi saya, sangat perlu. membatasi peredaran barang elektronik “ilegal”. sehingga pabrik yg benar2 produksi di sini bisa tetap produksi, order terjaga.

    untuk smart phone, setahu saya harus ada uji kelayakan dari dirjen postel.
    uji kelayakan dirjen postel mensyaratkan kandungan TKDN.

    masalahnya kenapa dari awal barang2 seperti itu bisa masuk ?
    hahahahahaha….

    peraturan TKDN dibuat untuk melindungi industri manufacture lokal.
    agar kuli pabrik seperti saya bisa kerja.

    mohon maaf jika ada yg salah…

    • Naghjhh sepakat mas broo.
      Muara impor kan dari bea cukai. Kenapa kok bisa lolos masuk.
      Seperti hape infi#i** itu gak ada nomer ditjenpotsel … Kok bisa beredar yaa.
      Coba ciduk distributor resminya, suruh recall barang yg terjual … Naghh dengan begitu pedagang retail enggak rugi, peraturan jalan normall

Tinggalkan Balasan