Apa Daya Rossi Tanpa Jeremy Burgess

Burgess dan Rossi di musim terakhir foto: autoevolution.com
Burgess dan Rossi di musim terakhir
foto: autoevolution.com

Di akhir musim 2013, di Valencia. Valentino membuat keputusan paling berani dalam karir di MotoGP. Dia memutuskan untuk tidak lagi menggunakan jasa Jeremy Burges sebagai kepala mekanik. Sebagai gantinya, Rossi menunjuk Silvano Gabusera.

Jeremy Burgess adalah legenda mekanik di MotoGP. Dari motor besutanya, lahirlah para juara mulai dari era Freddie Spencer, Randy Mamola, Ron Haslam, Wayne Gardner, Mick Doohan hingga yang terakhir adalah Valentino Rossi.

Sejak memensiunkan Burgess, Rossi nyaris tak pernah bersaing dalam hal top speed dengan pembalap di depanya. Burgess sendiri selalu rendah hati mengatakan, bahwa motor besutanya, hanya berperan 20% saja di lintasan, selebihnya adalah tergantung kemampuan rider.

Baca Juga:   Dianggap Gak Netral, Lucy Wiryono Dibully Fans Marquez

Setelah dipecat, Burges pernah mengatakan (dilansi GP-Inside). Bahwa kemampuan balap Rossi sudah menurun. Dia mengejar sesuatu yang tak akan pernah dia bisa kejar. Baginya, Trio Spanyol (Lorenzo, Pedrosa, Marquez) tak akan pernah bisa dikejar Rossi yang sudah menua.

Musim 2015, sepertinya benar nasehat Mbah Jeremy. Kemampuan Rossi sudah jauh menurun untuk bisa meladeni due 3 spaniard. Terutama melawan Marquez.

Ibarat Sinto Gendeng (Rossi) punya murid Wiro Sableng (MM93). Rossi begitu kerepotan menghadapi muridnya itu sendiri. Yang ternyata lebih gendeng.

roda2blog di sosial media

10 Komentar

  1. Rossi cuma bisa maen aman,gak ada yg spesial. Klo markes pilih win ato dnf .
    Tentu lebih menarik markes secara performa. Rossi mau jurdun modal munguti poin.
    Ketidak mampuan rossi secara skill berudaha ditutupi dg memcari kambing hitam utk kegsgalannya. Ibarat NAFSU BESAR TENAGA KURANG.
    tp fbr gak bisa mikir. Apa yg diucapkan sang nabi fbr ,mereka langsung mengamini. Bahkan bila rossi bilang “kegagalanku karena jokowi” ,para fbr percaya saja tanpa bisa mikir

  2. wajar kalau atlit sudah melewati masa emasnya akan bermain aman mas Jarwo, itu manusiawi.. lagian atlit ini sudah nggak terlalu banyak yang mau dikejar, biarpun nggak jurdun tetap aja pendapatan paling besar, pengaruh di motoGp paling besar, rekor juara dunia banyak, punya tim balap sendiri, kalau mau bandingkan secara apple to apple.. liat rossi sewaktu seumuran dengan marquez..

    kalau bandingannya dengan 3 spaniard yang umurnya jauh lebih muda, ya manusiawi kalau kalah.. tapi ini juara dunia ke dua loh, artinya cuma lorenzo yang bisa ngalahin dia.. sementara pembalap2 lain yang lebih muda KO sama pembalap tua..

    Saya bukan FBR, saya fans Ducati ianonne.. yg mencoba berfikir objektif aja

  3. Sejak memensiunkan Burgess, Rossi nyaris tak pernah bersaing dalam hal top speed dengan pembalap di depanya. Burgess sendiri selalu rendah hati mengatakan, bahwa motor besutanya, hanya berperan 20% saja di lintasan, selebihnya adalah tergantung kemampuan rider.

    kalo memng ngikutin tanpa hati busuk dan dengki maz bro pasti tahu kalo dari jamannya di repsol pun rossi sering kesalip di track lurus, dan bertambah lagi saat pindah ke ymha,namun m1 990cc(sebelum800cc) justru rossi lebih dominan di motogp krena dia lebih cocok krkternya

  4. Musim 2015, sepertinya benar nasehat Mbah Jeremy. Kemampuan Rossi sudah jauh menurun untuk bisa meladeni due 3 spaniard. Terutama melawan Marquez.

    klo sering lihat performa pedro dlu dan gap nya dgn rossi lalu membndgkan dgn gap mreka berdua sekrg, saya setuju! namun sekali lagi.mazbro memutar fakta bahwa keputusan mnganti jermy burgess adalah kptusan tepat terbukti dgn performa rossi skrg.usia burgess yg sudh terllu tua tentu sudah susah. saran saya hilgkan kbsukn hati saat buat artikel

Tinggalkan Balasan