Trowulan Mojokerto, Apocalypto Majapahit

Candi Brahu

Akhirnya kesampaian juga. Menelusuri Trowulan, Kota yang diyakini terpendam di dalamnya perdaban Majapahit. Dalam berbagai prasasti, Trowulan disebut Antarwulan, Kotaraja Majapahit.

Berjalan pelan dengan Yamaha Byson menelusuri jalan. Lha kok saya ngelamun jadi Bahubaali, Raja Maheswari dari India yang bertamu ke tanah Jawa.

Byson berjalan pelan mengantar ke sebuah gerbang yang megah. Membuat kami terasa sangat kecil saat melintasi celah dua gerbang ini. Sebuah peringatan bagi siapapun tamu Majapahit, bahwa kalian tak sebesar keagunganya.

Tepat di belakang gerbang ada sebuah rumah besar nan megah seakan menyambut para tamu, ini adalah kediamaan Patih Gajah Mada.wp-1450920125965.jpg

Orang yang paling berpengaruh setelah raja. Yang telah bersumpah melayani Majapahit dan meninggalkan kenikmatan duniawi demi kejayaanya. Sosoknya kurus dengan tubuh penuh otot dengan postur tubuh pendek khas orang Majapahit.

Setiap prejurit bersenjatakan tombak dan pedang pendek yang  bentuknya meliuk-liuk. Mereka terkenal gesit, mampu berlari cepat dan sangat beracun. Racun dari Majapahit hampir tak ada penawarnya.

Baca Juga:   Keindahan Majapahit: Sketsa Negarakertagama #8

Sistem kasta diberlakukan sangat ketat. Kalangan pekerja kasar atau budak tinggal di rumah-rumah kecil. Para ksatriya hidup di rumah yang megah dan mewah.
image

Sampai juga di tepi kolam segaran. Alun-alun di kota raja Majapahit bukanlah tanah lapang, tapi sebuah kolam yang besar.

Jika ada pengkhianat kerajaan. Dia akan diceburkan ke kolam. Sebelumnya, beberapa ekor buaya putih sudah dilepaskan ke dalam kolam oleh pawangnya.

Tak mengherankan jika legenda Buaya Putih, antara ada dan tiada bagi penduduk Jawa setelah era Majapahit.

Tontonan bar-bar yang banyak dinanti. Saya kok tiba-tiba teringat film Apocalypto. Yang menggambarkan peradaban maju suku Maya di Meksiko, tapi perilakunya tetap bar-bar suka mengorbankan nyawa manusia sebagai tumbal.

Apakah Majapahit juga demikian? Entahlah, bisa tidak tapi bisa juga iya. Buktinya, warisan budaya tumbal-menumbal terekam di Jawa, terutama ketika membangun bangunan besar seperti jembatan, gedung, pendopo dll.

Baca Juga:   Candi Cetho Tempat Brawijaya Moksa, Saat Gelap Berawan Malah semakin Eksotis

Mitosnya, katanya sih gak sah bila membangun jembatan tanpa tumbal kepala manusia.

Untuk membangun kerajaan yang demikian megah dari bahan batu bata merah. Tentu dibutuhkan banyak tenaga kerja.

Untuk memenuhinya, Majapahit menaklukan suku-suku lain di tanah Jawa dan Bumi Nusantara untuk dijadikan budak pekerja di Kotaraja Antarwulan.

Kejayaan Majapahit berdiri di atas bara dendam kerajaan-kerajaan yang ditaklukanya. Terutama dari Keturunan Wangsa Sanjaya-Airlangga yang digulingkanya (Kerajaan Kediri).

Di akhir masanya, Kotaraja Trowulan Majapahit akhirnya hancur lebur oleh serangan dari Daha-Kediri. Mungkin itu luapan dendam dari keturunan Jayakatwang, raja terakhir tanah Jawa dari wangsa Sanjaya.

[display-posts tag=Majapahit]

roda2blog di sosial media

Tinggalkan Balasan