Terowongan Kuno Gunung Mangge Ponorogo

Akhirnya ketemu juga, terowongan kuno gunung Mangge Ponorogo ini. Berawal dari tayangan acara Napak Tilas di JTV, beberapa tahun terakhir ini saya kusak-kusik mencari terowongan air ini. Lha wong orang Mangge sendiri juga banyak yang gak tahu lhoo. Kan mumet jadinya saya.

Penuturan narasumber di acara JTV tersebut. Terowongan ini dibuat pada zaman kerajaan Medang. Terowongan ini sangat bermanfaat bagi penduduk di sisi timur gunung Mangge. Dengan adanya terowongan ini, mereka bisa kebagian aliran air dari sungai Mangge, di sisi barat gunung.

Di sungai Mangge sendiri sempat dibangun DAM/Bendung air pada zaman Belanda. DAM ini hancur tahun 1980an. Lokasinya cukup jauh dari pintu masuk terowongan. Lalu pada tahun 2006 dibangun DAM yang baru lokasinya berdekatan dengan pintu masuk terowongan. Agar keberadaan terowongan tetap eksis, dibangun pintu kontrol air di sebelah DAM.

peta terowongan mangge

Panjang terowongan ini kurang lebih 2 KM. (lihat peta) ada dua sumur lubang kontrol air yang tembus ke atas gunung dengan diameter 5 meter. Yang menakjubkan dari terowongan ini, dinding terowongan sama sekali tidak diperkeras dengan batu atau semen. Dinding terowongan masih berupa tanah, seperti digali sederhana dengan alat yang sederhana. Dan hebatnya lagi, tidak ambroll seiring zaman berlalu.

terowongan Mangge 1 terowongan Mangge

 

Cerita mistisnya? beberapa bulan yang lalu ada anak yang mati tenggelam ketika mandi berenang di pintu kontrol air. Padahal kedalaman airnya hanya 60cm/ sak dengkul.

Dam Mangge Zaman Belanda, posisi jauh dari pintu masuk terowongan
Dam Mangge Zaman Belanda, posisi jauh dari pintu masuk terowongan

Legenda tentang terowongan ini ada berbagai macam versi. Salah satunya versi sastrajawa.org sebagai berikut ini yang diterjemahkan oleh laman Facebook setenpo :

Legenda Rara Kandreman Dan Terowongan Gunung Mangge.

Di kawasan barat Ponorogo tepatnya desa Sidorejo kec Sukorejo terdapat sebuah bukit yang oleh masyarakat disebut Gunung Mangge. Yang unik, di bawah gunung terdapat sebuah terowongan menembus gunung, juga ada 2 lubang mirip kawah ke arah atas. Bagaimana legenda tempat tersebut, inilah kisahnya.

Jaman dahulu ada seorang gadis bernama Rara Kandreman putri Ki Ageng Mangge yang terkenal sangat cantik. Mendengar kecantikan Rara Kandreman, Ki Ageng Mangli yang berada di barat gunung Mangge menyuruh cantrik (murid) nya untuk melamar.

Baca Juga:   Liburan Murah di Apartemen Puncak Marina Surabaya Bareng Pemain Bintang Persebaya

Ki Ageng Mangge sebenarnya dalam hati kurang suka dengan Ki Ageng Mangli jika melamar anaknya. Hal ini karena Ki Ageng Mangli sudah tua sedangkan anaknya masih muda. Sebagai siasat menolak secara halus, maka Ki Ageng Mangge meminta syarat mau menerima lamaran jika Ki Ageng Mangli bisa membuat terowongan air menembus gunung dalam semalam dari barat gunung sampai depan rumah Ki Ageng Mangge.

Di luar dugaan, Ki Ageng Mangli menyanggupi. Ia lalu bersemedi kemudian berangkat mengeluarkan kesaktianya berupa ajian Balasewu sehingga ia punya kekuatan seperti 1000 raksasa. Dengan kekuatan luar biasa ia membuat terowongan, bahkan 2 kali membuat terowongan ke atas untuk melihat apakah terowongan air yang ia buat sudah lurus atau belum.

Ki Ageng Mangge mengetahui Ki Ageng Mangli hampir berhasil lalu bersiasat menyuruh penduduk membunyikan lesung, mengeluarkan ayam agar berkokok, dan menyalakan api unggun raksasa. Ki Ageng Mangli melihat dari kejauhan mengira sudah terbit fajar maka ia pulang karena merasa gagal.

Setiba di rumah Ki Ageng Mangli masuk sanggar pamujan, tapi sampai lama keadaan masih gelap. Cantriknya lalu menyatakan bahwa hari memang masih malam. “oh, Ki Ageng Mangge ternyata menipuku, ini tidak bisa dibuat baik, maka saya akan menuntut balas, akan kupaksa Rara Kandreman menerimaku” ucap Ki Ageng Mangli.

Di timur, Ki Ageng Mangge sudah bersiap menerima apa yang akan terjadi. Ia berpesan kepada warga desa jika nanti ia bertarung dengan Ki Ageng Mangli dan kalah, warga desa tidak usah melakukan belapati (menuntut balas) karena persoalanya dengan Ki Ageng Mangli adalah urusan pribadi.

Kepada putrinya, Ki Ageng Mangge bertanya bagaimana jika ia nanti dipaksa menikahi Ki Ageng Mangli, Rara Kandreman menjawab..”Jika Ki Ageng Mangli menyentuh saya, lebih baik saya tidak melihat terangnya matahari, lebih baik mati daripada menikah dengan orang yang usianya jauh lebih tua, tak sebaya dengan saya”.

Baca Juga:   Rayakan Hargolnas, Ganti Oli Tanggal 20 di AHASS Ada Hadiah

Mendengar ucapan putrinya,Ki Ageng Mangge menjawab.”.Jika memang demikian tekadmu, semoga terlaksana. Mari masuk ke sanggar pamujan berdoa pada Yang Maha Kuasa”.

Tak lama kemudian Ki Ageng Mangli datang untuk membuat perhitungan. Ia marah menyebut tipuan Ki Ageng Mangge. Ki Ageng Mangge menjawab, kenapa Ki Ageng Mangli yang sudah tua tapi tidak sadar ditipu, malah seperti anak kecil yang belum tau apa apa, jadi itu kesalahan Ki Ageng Mangli sendiri.

Mendengar ucapan tersebut lalu Ki Ageng Mangli langsung mengamuk dan menantang Ki Ageng Mangge. Keduanya bertarung mengadu kesaktian yang berakibat tewasnya Ki Ageng Mangge.

Rara Kandreman yang mengetahui ayahnya tewas lalu lari karena tak mau dijadikan istri oleh Ki Ageng Mangli. Sampai di sebuah kedung (sungai yang dalam) ia melompat, Ki Ageng Mangli mengejarnya. lalu keduanya tenggelam dan jasadnya tidak ditemukan lagi.

Pada jaman dahulu warga di timur Gunung Mangge punya kepercayaan dilarang menumbuk padi dengan lesung sebagai hukuman dari Ki Ageng Mangli,sedangkan terowongan air sampai sekarang masih ada.

Nama Ki Ageng Mangge sekarang diabadikan sebagai nama jalan.

 

 

roda2blog di sosial media

6 Komentar

1 Trackback / Pingback

  1. Terowongan Kuno Gunung Mangge Ponorogo — roda dua blog | Suetoclub's Blog

Tinggalkan Balasan ke Irawan Batalkan balasan