MUI Samarinda Sebut Polisi Tidur Haram, Berdosa Dong Yang Melindas?

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda menyebut ‘polisi tidur’ di jalan-jalan di Samarinda, haram. Waduhh opo maneh iki? Sebenarnya kurang tepat menggunakan vonis halal-haram pada polisi tidur. Lha emang makanan?

Yang lebih tepat sebenarnya kalimat “ma’ruf” atau “Munkar”. Mendatangkan kebaikan atau keburukan. Jika ternyata polisi tidur adalah perbuatan yang mendatangkan kemunkaran/lebih banyak buruknya bagi pengguna jalan, baru deh dihukumi bahwa perbuatan membuat polisi tidur haram hukumnya.

Jadi yang dihukumi haram bukan polisi tidurnya. Lha klo polisi tidurnya yang berstatus haram, nanti siapa saja melindas berdosa dong. :mrgreen: Jadi yang haram menurut MUI adalah membuat polisi tidur. Sedang bangunan polisi tidur itu sendiri adalah perbuatan munkar, karena mengurangi kenyamanan pengguna jalan.

Nagh klo menurut sobat bagaimana? klo menurut r2b sih, polisi tidur itu justru membawa kebaikan (makruf) terutama mengurangi kecepatan kendaraan di komplek perumahan. Tapi ya seharusnya Polisi Tidur itu diberi tanda yang jelas agar pengendara ada kesiapan sebelum melindasnya. Jangan macam oknum polisi aja, yang tiba-tiba nongol main tilang gitu. :mrgreen:

polisi tidur kurang ajar
Polisi tidur yang membahayakan

Monggo disimak beritanya dari Tribun Samarinda:

Menurut MUI, ‘polisi tidur’ mengancam keselamatan pengguna jalan. Kebanyakan ‘polisi tidur’ yang dipasang oleh warga, yang awalnya dimaksudkan untuk memperlambat laju pengendara, belakangan malah menjadi ancaman.

Demikian dikatakan Ketua MUI Samarinda KH Zaini Naim, menanggapi salah satu aspirasi peserta kepada Wali Kota Samarinda yang disampaikan dalam acara Rapat Terbuka dan Dialog Publik Ormas dan OKP se-Samarinda dengan Pimpinan Daerah Kota Samarinda, di rumah jabatan Wali Kota di Jalan S Parman Samarinda, Rabu (6/2/2013).

Dalam aspirasinya, peserta dari salah satu ormas tadi mencontohkan ‘polisi tidur’ di depan Kampus Politeknik Negeri Samarinda. Menurutnya, ‘polisi tidur’ bukan hanya terdapat di jalan-jalan perumahan di Samarinda. Jalan protokol di beberapa tempat pun sudah dipasangi ‘polisi tidur’.

Selain membahayakan pengendara, bila dibangun terlalu tinggi, ‘polisi tidur’ akan merusak bagian bawah kendaraan yang melintas di atasnya. Beberapa ‘polisi tidur’ yang dibuat di tanjakan dan tikungan, juga sangat besar kemungkinannya mengancam keselamatan pengguna jalan.

Menurut Zaini Naim, bila keberadaan ‘polisi tidur’ sampai mengganggu kenyamanan pengguna jalan, maka dalam Agama Islam hal itu sudah disebut ma’ruf. Zaini menegaskan, ‘polisi tidur’ seharusnya tidak boleh ada di jalan-jalan di Samarinda.

Note: mungkin yang dimaksud disini adalah perkara munkar, bukan perkara ma’ruf. munkar artinya perkara yang mendatangkan bahaya bagi orang lain.

“Kalau sampai menciderai orang, itu menjadi haram. Sangat tidak relevan itu. Dalam agama, jalan itu disuruh dilancarkan supaya orang mudah berjalan. Justru, jalanan sudah bagus dikasih polisi tidur,” tutur Zaini.

‘Polisi tidur’ adalah bagian jalan yang ditinggikan berupa tambahan aspal atau semen, yang dipasang melintang di jalan untuk pertanda memperlambat laju kendaraan. Seiring gencarnya semenisasi jalan di Kota Samarinda, dikuti pula dengan pertambahan ‘polisi tidur’.

Dari beberapa sumber, untuk Indonesia, ‘polisi tidur’ sebenarnya  tidak asal dibangun. Ketentuan yang mengatur tentang disain ‘polisi tidur’, diatur oleh Keputusan Menteri Perhubungan No 3 Tahun 1994 tentang Alat Pengendali dan Pengaman Pemakai Jalan, di mana sudut kemiringan adalah 15 persen, dan tinggi maksimum tidak lebih dari 120 milimeter.

gambar polisi tidur yang benar

Sementara, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang mengakui, ‘polisi tidur’ yang dibangun atas inisiatif warga, mengakibatkan kurangnya kenyamanan pengguna jalan.

Baca Juga:   Mau Jual Motor Lama Untuk Beli Motor Baru? Denger dulu petuah Orang China

roda2blog di sosial media

8 Komentar

  1. ketika jalanan rusak protes minta dibenerin, karena
    – tidak nyaman
    – memperlambat
    – boros bbm
    – boros sock breaker/dll

    setelah jalanan dibenerin dan mulus malah dirusak dg polisi tidur dg alasan biar nggak ngebut.
    padahal efeknegatif polisi tidur sama dengan jalan rusak.
    masalah ngebut biasanya hanya sesaat toh masih bisa diatasi dengan rambu, menegur orang yg jelas2 ngebut, dengan katalain tepat sasaran.
    sementara kalau dengan polisi tidur,semua orang akan menerima akibatnya tanpa pandang bulu.

    polisi tidur biasanya dibuat didekat persimpangan kecil, dengan dengan alasan membantu ketika hendak keluar, yang jadi masalah kendaraan yang luar masuk sangat jarang meski demikian kendaraan yang lurus tetap saja harus menikmati polisi tidur.
    yang lebih parah lagi kalau polisitidur ada di setiap gerbang rumah.

  2. Wahh kali ini ane setuju sama MUI.. kalo soal ngebut/enggak nya sih tergantung orang nya.. jd yg diperbaiki moral orang nya bukan jalan yg udh bener2 malah dibuat poldur.. lha org jalan rusak aja ttep bisa ngebut pake trail… wkwkwkwkk

  3. Halal haram bukannya hanya diterapkan untuk sesuatu yang dimakan? Contoh nih… 4nj1ng kalo cuma dipegang ya ga haram… kecuali dimakan…

    Nah polisi tidurnya klo dimakan ya haram… soalnya kan isinya aspal,pasir,najis..

    Soal polisi tidur… dijalanan kampung ane… ketua RT nya bikin kebijakan dilarang pembuatan polisi tidur dijalan kampung… karena apa? Lah jalan bagus, rapi, alus… kok dirusak sama poldur… apalagi yang punya rumah disitu ga enak banget…tiap hari kena poldur terus.. cari sengsara sendiri..

    Soal anak2 yang ngebut mah gampang… diliat aja anaknya sapa…samperin ortunya… dikasih tau anaknya ngebut.. kalo ortunya yang ngebut… ya tambah gampang…hukuman sosial… ngenes broo…

    Aturan ini uda jalan dikampung ane lebih dr 10 th dan aman2 aja… ga ada yang ngebut2an…

    Revolusi mental kah????

Tinggalkan Balasan