Bawa Motor Protolan Ke Sekolah, Pelajar Ini Lapor Polisi Mengaku Ditampar Guru

Kejadian lagi gan, seorang siswa melaporkan gurunya ke Polisi karena mengaku telah ditampar pipinya oleh  tersebut. Seorang siswa kelas XI SMKN 1 Mojoanyar,  Senin (22/8/2016). 
Pelajar berinisial SW (16) asal Kelurahan Gebangmalang, Kecamatan Mojoanyar itu mengaku ditampar sebanyak lima kali oleh guru berinisial , karena berangkat ke sekolah memakai motor protolan.

Sugiarto, paman korban saat mendampingi lapor ke SPKT Polres Mojokerto menceritakan kalau dugaan penganiayaan itu dilakukan saat SW baru sampai di sekolah. Saat sedang memarkir motor, salah satu guru perempuan berinisial K menanyakan spion motor korban. Tak lama, datanglah guru berinisial F dan ikut menegurnya. Namun korban justru dianggap tidak menghiraukan peringatan tersebut, sehingga korban langsung ditampar sebanyak lima kali dibagian pipi.

“Dikira menantang, lalu guru tersebut menampar keponakan saya lima kali,” kata Sugiarto

Tak berhenti sampai disitu, Sugiarto juga menambahkan, SW juga sempat diusir dengan nada keras. Ia dianggap tidak pantas sekolah di SMKN 1 Mojokerto dan disuruh memanggil orang tuanya ke sekolah. ”Kamu keluar saja dari sini, kamu gak pantas sekolah disini,” katanya sambil menirukan oknum guru yang diceritakan keponakannya.

Sementara Kepala Sekolah SMKN 1 Mojoanyar, Akhmad Muklason membantah pengakuan SW. Menurutnya, guru berinisial F itu hanya menutup mulut SW karena dianggap melawan dengan kata-kata kasar.

“Saat ditegur SW malah memakai bahasa Jawa kasar (ngoko). Dia tak ditampar tapi dibekap mulutnya agar tak celometan. Kalau tak salah banyak guru yang menyaksikan itu,” terangnya. Naghh ini wajah siswa yang celometan itu gan.
Muklason menjelaskan, untuk mengajarkan kedisiplinan kepada siswa, baik saat di sekolah maupun di jalan raya, pihaknya melarang semua siswa mengendarai sepeda motor protolan. Sanksi yang diberikan kepada siswa yang melanggar pun tak pernah dengan kekerasan.

“Kami tak pernah sampai menempeleng atau memukul siswa. Siswa yang melanggar kadang diminta membersihkan sampah,” terangnya.

Sekarang tinggal tunggu kepedulian PGRI Mojokerto untuk melindungi/membela guru. Tiap bulan bayar iuran, mossok klo ada masalah gini gak aktif membela.

Menurut pengalaman R2B. Setiap laporan kekerasan fisik harus ada surat visum dari dokter/rumah sakit. Sebuah tamparan hanya meninggalkan bekas di pipi selama maksimal 1jam saja, itu pun klo tamparanya keras banget pakek sandal  lily klo cuma pakek tangan, paling cuma merah aja selama 10menit aja. Walhasil susah divisum, beda klo pukulan rotan, seminggu juga masih mbekas

Saya yakin surat visum hasil tamparan buat pelajar ini (klo emang benar ditampar) hasilnya akan nihil, gak ada bekas. Soal saksi? masih menang pihak guru terutama jika bisa menambah saksi dari pihal pelajar dan kamera CCTV. So pasti si pelajar kalah klo sampai meja sidang.

Bukanya ngadu domba. Pihak sekolah dam Guru harusnya juga bikin laporan balik ke polisi dengan tema pencemaran nama baik guru dan sekolah. Ya biar si pelajar itu berkesempatan sekolah di penjara anak.

roda2blog di sosial media

3 Komentar

  1. Anak jaman sekarang emang cemen, berani melanggar peraturan tapi giliran dihukum ngadu sama polisi. perasaan jaman 90-an guru gaplok siswanya biasa2 aja, lha emang salah dihukum ya sudah sepantasnya. lagian guru juga gak bakal gaplok siswanya kalo gk keterlaluan. dan gak ada ceritanya siswa yg kena hukuman ngadu sama ortunya, soalnya bukannya di belain yg ada malah dimarahin. gk ngerti sama jalan pikiran orang tua sekarang.

Tinggalkan Balasan