KOBOYS Berawal Dari Komentator Di Blog Lalu Menjadi Saudara

Membaca dan menulis adalah bagian dari budaya orang Jogja yang tak terpisahkan. Semakin banyak membaca gairah menulis akan semakin tumbuh. Di Jogja ada banyak komunitas penulis yang juga komunitas pembaca, diantaranya ada Forum Lingkar Pena, Pesantren Penulis dan KOBOYS, tiga itu yang saya kenal.

Dwi Suwiknyo, salah satu penulis terkemuka kota Jogja sekaligus pendiri komunitas Pesantren Penulis, sering mengingatkan dalam status facebooknya bahwa semakin banyak membaca akan semakin tumbuh gairah menulis.

Di dunia maya yang dikuasai media sosial seperti sekarang ini, ada sebagian pembaca berita yang cenderung latah untuk segera menulis komentar walau baru membaca judulnya. Aksi yang demikian ini biasanya akan berujung debat panas antara sesama komentator dan penulis berita atau status, bahkan kadang putus tali pertemanan di dunia nyata.

KOBOYS wadah persaudaraan pembaca dan penulis blog.

Napak tilas 5 tahun Koboys di Gedangsari, Gunung Kidul. Foto: dokumen koboys.

KOBOYS ini unik, di paguyuban ini anggotanya bukan hanya blogger tapi juga mereka yang aktif membaca dan berkomentar blog, terutama blog-blog bertema otomotif.

Embrio Koboys berawal dari tahun 2009 yang anggotanya berasal dari para komentator di 3 blog otomotif  ninja250r.wordpress.com (sekarang tmcblog.com) lalu ducatimonster.wordpress.com (sekarang indobikermagz.com) dan triatmono.wordpress.com (sekarang triatmoni.info). Suasana kolom komentar di ketiga blog pada zaman itu mungkin sepanas dengan suasana pilkada sekarang ini.

Berkat usaha almarhum Muhammad Ishak (nickname di komentator: shark) para komentator yang di dunia maya memakai nama samaran, berhasil diidentifikasi lalu dikumpulkan atau di-kopdar-kan, kemudian mempunyai wadah pertemanan bernama “KOBOI” kepanjangan dari Komentator Blog Otomotif Indonesia.

Logo KOBOI dalam acara buka bersama. Foto: Hadiyanta

Tahun 2011, saudara M. Ishak meninggal dunia karena sakit ginjal. Semoga amal ibadahnya diterima disisi Allah.

KOBOYS berdiri sejak tahun 2010 berawal dari jamuan buka bersama KOBOI chapter Jogja dengan PT Astra Honda Motor (AHM) dan 3 blogger otomotif dari Jakarta yaitu diantaranya ada Taufik Hidayat ( Tmcblog.com), Stephen Langitan (StephenLangitan.com) dan Edo Rusyanto (edorusyanto.wordpress.com).

Anggota Koboi/Koboys berpose bersama selepas buka puasa bersama AHM tahun 2010. Foto: Irawan.
Di akhir acara, karena beberapa komentator sudah mulai menulis di blog sendiri akhirnya dideklarasikan KOBOYS kepanjangan dari Komunitas Blogger Otomotif Yogyakarta dan sekitarnya. 

Di kemudian hari, karena KOBOYS berasal dari KOBOI yang berawal dan beranggotakan para komentator dan agar tetap menyambung tali silaturrahmi antar komentator,  KO di KOBOYS berubah jadi “Komentator dan Blogger Otomotif Yogyakarta dan Sekitarnya”.

Pelan tapi pasti, anggota Koboys yang dulu hanya sekedar komentator di blog-blog otomotif akhirnya memberanikan diri untuk mulai menulis di blog. Namun tetap ada yang setia menjadi komentator. 

Baca Juga:   New JUPITER MX ... Pilihan Bijak
Tampilan Slide Koboys saat deklarasi. Saat ini artinya kepanjanganya sudah berubah. Foto: M. Hadiyanta

Secara organisasi Koboys boleh disebut Organisasi Tanpa Bentuk. Koboys tidak memiliki struktur organisasi tetap meskipun saat deklarasi ada susunan kepengurusan. Dalam perjalananya tidak ada Anggaran Dasar (AD/ART), tidak ada musyawarah tahunan. Semuanya mengedepankan rasa seduluran (persaudaraan) khas budaya Jawa. Tolok ukur adalah tenggang rasa sesama saudara khas Jogja. Tentunya tetap ada pemimpin sebagai koordinator dan yang dipilih yang paling dituakan diantara sesama saudara dan yang paling siap ngayomi. Pokoknya “njawani.”

Sampai di usia 7 tahun ini tetap aktif guyub rukun khas Jogja. Jika dulunya hanya berkarya lewat tulisan, anggota koboys yang lebih muda usianya dan berjiwa muda sekarang juga telah merambah  Youtube dengan channel, Kars TV (Koboys Auto Reviews TV) yang sudah tumbuh dengan subscriber mencapai 20ribuan.

Anggota koboys saat ini datang dari berbagai latar belakang pendidikan, agama dan usia. Domisilinya tidak hanya ada di Jogja, tapi juga sampai Cilacap, Surabaya, Jakarta bahkan ada yang dari Thailand, Dubai dan Qatar. Semuanya tetap nyambung dengan rasa seduluran berawal dari minat yang sama, otomotif. Karenanya sekarang Koboys menjadi “Komentator dan Blogger Yang Seduluran.”

Ketua dan anggota Koboys saat wawancara dengan stasiun radio di Jogja. Foto: dokumen Koboys.
Walau proses berdirinya diinisiasi oleh PT AHM, Koboys bersifat independen bebas dari pengaruh pabrikan atau merek. Jika kopdar, hampir semua merek motor ada, mulai dari brand asal India, Jepang sampai Eropa. Dari motor terbaru sampai motor kastem. Semua boleh ngumpul. Walau tak bisa dipungkiri, Koboys dan Honda punya ikatan batin.

PT AHM dan Astra Motor Yogyakarta (AMY) sering menggandeng Koboys dalam kegiatan sosial. Di antaranya pada tahun 2011 saat kekeringan melanda daerah Gunung Kidul. Koboys dipercaya oleh AHM untuk menyalurkan bantuan air bersih kepada yang membutuhkan di Kecamatan Paliyan, Gunung Kidul, DIY. 

Baksos bersama PT. Astra Honda Motor. Foto: Hadiyanta

AMY juga sering memberikan pelatihan pengembangan diri pada anggota koboys, diantaranya adalah pelatihan safety riding yang dilangsungkan awal bulan Maret.

Anggota Koboys berpose setelah mengikuti pelatihan Safety Riding. Foto: Dida

Koboys bagian dari inspirasi 60 tahun Astra. 

Paguyuban Koboys ini bisa menjadi role model inspirasi dari Astra dalam menjaga kearifan berkomentar di dunia maya. Bahwa semiterius apapun nickname anda di dunia maya, tetaplah punya raga yang butuh rasa persaudaraan dibandingkan rasa permusuhan. Terbukti nickname komentator dengan nama-nama aneh seperti: shark,  blackcat, martini, jahe, rosa, bonsai, lekdjie, nick69, jombloati, dani, monde dll akhirnya bersedia kopdar untuk bertatap muka lalu menjalin tali seduluran.

Baca Juga:   Identitas Korban Meninggal Dalam Kebakaran Di Tol Sidoarjo

Koboys yang diinisiasi oleh AHM ini bisa jadi telah menjadi salah satu dari “inspirasi 60 tahun Astra” dalam menebarkan kebaikan di Indonesia sejak berdiri 60 tahun silam. Suatu bukti nyata bahwa para komentator di internet bisa dijaring, dikumpulkan dan akhirnya jadi teman di dunia nyata dan berkarya buat sesama.

Sebagian anggota Koboys berpose setelah menyalurkan bantuan untuk korban tanah longsor di Banjarnegara tahun 2014. Foto: Aziz
Presiden Joko Widodo pernah menyampaikan keprihatinanya tentang situasi dan kondisi tutur kata baik komentar maupun berita di dunia maya media sosial. Yang isinya selain banyak menebar hoax, juga komentar cacian, makian, celaan dan lain sebagainya.

Membaca adalah bagian dari budaya orang Jogja yang sudah turun temurun ada sejak zaman koran cetak dipajang di etalase. Demikian halnya dalam mengkomentari sebuah berita, kearifan berkomentar dalam menyikapi sebuah berita juga sudah ada lama di Jogja. Bisa dibayangkan andai orang-orang yang membaca koran di etalase lalu saling mengomentari berita tanpa mengindahkan perasaan pembaca lainya di sampingnya, bisa jadi tawuran kan?

Inilah yang perlu ditularkan, kearifan budaya Jogja dalam menyikapi sebuah berita. Bukan asal berkomentar yang bisa meperkeruh suasana, tapi juga mencerna dan memahami. 

Ambil contoh saat ada Sabdha Raja dari Sultan HB X pada tahun 2015. Media-media berita nasional online yang berpusat di Jakarta sudah memberi hastag cukup panas “Rebutan Tahta Keraton Yogyakarta”. Faktanya, rakyat Yogyakarta tetap adem ayem sampai sekarang. Kolom kementar di berita-berita media online tersebut sepi, andai kolom komentarnya ramai, mungkin keadaan akan memanas. Ini menunjukan kearifan orang Jogja dalam mengomentari berita. 

Semoga Koboys tetap solid dan menyebarkan virus bekomentar yang sehat di dunia internet. Sesuai mottonya, “Kanggo Ngrakette Paseduluran”.

Anggota Koboys saat Turing Jogja-Pacitan bersama Taufik Hidayat / Tmcblog.com. Berawal dari berkomentar di blog beliau kita bisa ngumpul, berkenalan, berkarya dan bersaudara. Foto: Tmcblog.com

roda2blog di sosial media

10 Komentar

Tinggalkan Balasan