Seorang Polisi Dituduh Pukul Valentino Rossi Di Depan Kelas

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait turun tangan terkait kekerasan anak oleh polisi ini. (Liputan6.com/Abelda Gunawan).

Seorang polisi berinisial Brigadir Hu tengah menjadi musuh masyarakat di Kutai Barat, Kalimantan Timur setelah memukul Valentino Rossi di depan kelas saat kegiatan belajar mengajar tengah berlangsung.

Beberapa warga di media sosial lalu memviralkan gerakan Save Our Sister (SOS) menuntut keadilan atas kasus kekerasan menimpa Valentino Rossi (9) siswa kelas 3 SDN 002 Kutai Barat, Kalimantan Timur.

“Anak ini dipukul oknum polisi di ruang kelasnya di hadapan guru-guru dan teman-temannya,” kata pendamping Gerakan SOS Christin Paren, Minggu, 23 April 2017 seperti dilansir liputan6.com

Christin mengungkapkan, peristiwa pemukulan terjadi sebulan lalu saat korban sedang mengikuti mata pelajaran Matematika. Di tengah pelajaran, Brigadir Hu masuk ke ruang kelas mencari siswa yang menganggu anaknya.

“Dia bilang, siapa yang tadi menganggu anak saya? Rossi langsung maju sambil angkat tangannya. Polisi ini langsung memukul dada anak ini hingga terjengkang ke belakang,” sebutnya.

Guru Matematika dan siswa-siswa, lanjut Christin, langsung melerai pertikaian tidak seimbang ini. Adapun polisi itu tanpa sepatah kata langsung pergi meninggalkan ruang kelas.

Sebelumnya Rossi dan anak Brigadir Hu sempat saling dorong. Namun ternyata, anak polisi itu tersinggung dan menelpon ayahnya bahwa dirinya diganggu temannya di sekolah.

Baca Juga:   Di Thailand, All New Honda PCX150 Masih Pakek Rem Tromol dan Lebih Mahal

“Padahal sekedar bercanda-canda antarsesama anak-anak saja. Tidak ada yang terluka sehubungan masalah ini,” ucap Christin.

Menurut dia, Polres Kutai Barat juga terkesan mengabaikan laporan yang dibuat pihak keluarga atas perlakuan anggotanya. Selama sebulan ini, kasusnya tidak diproses sebagaimana mestinya kasus pidana kekerasan anak di bawah umur.

“Kami tidak memperoleh berkas laporan polisi, hasil visum juga tidak pernah diberikan pada keluarga korban. Selama sebulan ini polisi tidak pernah memeriksa saksi saksi maupun pelaku ini,” ujar Christin.

Christin mengatakan, Brigadir Hu hingga kini tidak menunjukan itikad baik dengan meminta maaf pada keluarga korban. Polisi ini juga tidak pernah menghadiri upaya mediasi yang sudah diupayakan Dewat Adat di Kutai Barat guna menengahi permasalahan ini.

“Bahkan dia terkesan menantang keluarga korban dengan tiap hari hilir mudik melintasi rumah mereka,” ucapnya.

Karena itu SOS menuntut Polri menindaklanjuti kasus kekerasan anak yang sudah dilakukan anggotanya di Kutai Barat. Mereka juga sudah meminta dukungan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Aris Merdeka Sirait agar kasus hukumnya berjalan transparan.

Baca Juga:   Yamaha Engineering School Kembali Dibuka, Gratiss broo

“Kami meminta pelaku ditindak sesuai ketentuan hukum berlaku, tidak membedakan anggota polisi atau tidak,” tegasnya.

Kepala Polres Kutai Barat, AKBP Pramuja Sigit Wahono buka suara terkait kasus ini. Dia mengatakan, pihaknya masih memproses laporan dari keluarga Valentino Rossi. Satuan Profesi dan Pengamanan (Propam) juga sudah memeriksa personel dimaksud, yakni Brigadir Hu.

“Sedang dalam proses pemeriksaan, Propam juga sudah berjalan,” tuturnya.

Dia menyatakan pihaknya sedang mencari bukti kuat peristiwa pemukulan ini berdasarkan visum dan keterangan saksi-saksi. Menurutnya, polisi kesulitan mengumpulkan alat-alat bukti kasus pemukulan anak di bawah umur ini.

“Logikanya, kalau anak dipukul orang dewasa pastinya dampaknya akan fatal. Apalagi tidak ada keterangan saksi-saksi yang menguatkan ada pemukulan ini,” ujar Pramuja berdalih.

Pramuja menambahkan, Polres Kutai Barat kini sedang mengonsultasikan kasus ini pada Polda Kaltim untuk proses ke depannya. Kajian hukum dengan Polda Kaltim itu digunakan sebagai dasar lanjut atau tidaknya kasus itu.

“Kami menunggu hasil konsultasi Polda Kaltim, apakah akan dilanjutkan atau tidak,” tegasnya.

sumber: liputan6.com 

1 Komentar

  1. Ahhh polisinee bertele tele… Jelas² disitu banyak saksi (Menurut berita).
    Kalaupun visum gada, tuntut aja dgn uu perlakuan tidak menyenangkan….
    Harusnya mengayomi kok malah gitu ya, miriss…

Tinggalkan Balasan