Kredit Motor Bikin Orang Jadi Miskin

Prolog:

Individu yang mampu mencicil 700rb per bulan untuk sepeda motor, maka seharusnya dia juga mampu menabung 700rb per bulan. 

Bedanya, setelah selesai mencicil selama 36 bulan, sepeda motor yang dimilikinya malah turun nilainya dari total 25 juta jumlah uang disetor selama 36 bulan ternyata harga motor setelah dimiliki hanya senilai 13juta saja. Berarti ada 12juta yg melayang, apalagi klo yang dikredit adalah matik merek “Y” yang harga pasaranya hanya tersisa 10jutaan saja.

Bandingkan jika dia menabung 700rb selama 36 bulan. Akan memiliki uang cash 25juta yang jika dibelikan motor masih sisa 7jutaan. Bahkan motor bisa dimiliki pada bulan ke 24. 

Bagi masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, kredit bisa jadi adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan sepeda motor. Tapi percayakah Anda bahwa kredit sepeda motor adalah salah satu penyebab sulitnya masyarakat Indonesia untuk keluar dari kemiskinan?
Penelitian yang dilakukan oleh lembaga riset Financial Inclusion Insights menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepemilikan sepeda motor dan tingkat penghasilan masyarakat Indonesia. Dengan kata lain masyarakat miskin cenderung memiliki jumlah sepeda motor yang lebih banyak dibandingkan masyarakat berpenghasilan menengah ke atas. 

Hasil riset ini memang sangat prematur untuk membangun kesimpulan bahwa kemiskinan disebabkan gara-gara sepeda motor. Tetapi, dengan mempelajari pola prilaku ekonomi masyarakat dan mekanisme kredit kendaraan bermotor di Indonesia, asumsi ini menjadi masuk akal.

Untuk mendapatkan sepeda motor, masyarakat miskin seringkali diming-imingi dengan DP rendah oleh pihak dealer sepeda motor. Bagi masyarakat berpenghasilan minimum, skema ini memang terasa sangat ringan. Namun demikian, mereka sebenarnya telah masuk dalam perangkap hutang dalam jangka waktu yang cukup panjang. 

Dengan asumsi membayar uang muka (DP) sebesar Rp500 ribu, dalam kurun waktu sekitar 3 sampai 4 tahun mereka harus membayar sepeda motor Rp5-6 juta lebih mahal dari harga sepeda motor yang dibeli secara tunai. Harga yang sangat tidak ekonomis dengan jumlah bunga yang mencapai 25 persen.  

Baca Juga:   Di India Sari Guard Wajib, Di Indonesia Ketengkas Dilepas

Selama ini masyarakat miskin, yang memiliki keterbatasan pengetahuan finansial, seringkali menjadi sasaran empuk para sales sepeda motor. Dengan berbagai intrik marketing, mereka dengan mudah merayu masyarakat msikin untuk memilih DP rendah. Semakin rendah DP sepeda motor tersebut, pihak dealer akan semakin diuntungkan karena mendapatkan bonus insentif yang semakin besar dari pihak leasing sepeda motor.

Di sisi lain, masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah cenderung tidak memiliki perencanaan finansial yang matang. Mereka jarang sekali memperhatikan proyeksi penghasilan dan kebutuhan ekonomi keluarga. Sebagian di antara mereka bahkan memutuskan membeli sepeda motor hanya dengan diiming-imingi kredit motor DP rendah yang dibagikan di perempatan jalan. Masalahnya menjadi semakin rumit, karena banyak masyarakat yang melakukan kredit motor bukan atas dasar kebutuhan melainkan atas pertimbangan eksistensi, pamer harta dan harga diri.

Saya pernah mewawancarai satu keluarga miskin yang mempunyai dua kendaraan bermotor. Sepeda motor itu sehari-hari digunakan oleh dua orang anaknya untuk berangkat ke sekolah. Si kepala keluarga berujar bahwa motor itu didapatkannya secara kredit dan dia harus berjuang untuk melunasi kredit motor tersebut selama empat tahun lamanya. Pada saat saya tanyakan kenapa rela melakukan kredit motor yang sangat memberatkan ekonomi keluarga, jawabannya sederhana, dia tidak ingin anaknya terlihat berbeda dibandingkan kawan-kawan seumurannya yang memiliki sepeda motor.      

Fenomena ini sangat umum terjadi di Indonesia. Sangat mudah menemukan keluarga yang memiliki 2 atau 3 sepeda motor di mana semuanya didapatkan secara kredit dan dibeli hanya untuk alasan harga diri keluarga. Atau fenomena dimana masyarakat rela mengurangi nutrisi makanan anak-anaknya demi untuk melunasi kredit kendaraan bermotor.

Persoalan ini memang terlihat sepele tapi menyebabkan dampak ekonomi yang sangat signifikan bagi keuangan keluarga. Masyarakat miskin tidak bisa mengivestasikan kelebihan penghasilannya untuk aktifitas ekonomi yang lebih bermanfaat seperti investasi pendidikan untuk anak-anaknya, investasi bisnis ataupun membayar asuransi hari tua. Mereka akhirnya terjebak dalam putaran hutang yang terus membelenggu mereka untuk keluar dari jerat kemiskinan. 

Baca Juga:   First Impression Ketemu Blogger USA

Setidaknya terdapat dua hal penting yang patut dicatat dari fenomena ini. Pertama, kebanyakan masyarakat berpenghasilan rendah memiliki pengetahun finansial yang terbatas sehingga mereka tidak memiliki perencanaan finansial yang baik dan terjebak dalam rayuan marketing tukang kredit motor. 

Kedua, masalah kekayaan dan kesejahteraan ternyata bukan semata-mata tentang kalkulasi ekonomi tetapi juga kemampuan seseorang mengendalikan egonya.
Ternyata banyak masyarakat melakukan kredit motor bukan atas dasar kebutuhan melainkan untuk menjaga harga diri dan penampilan meski harus mengorbankan investasi untuk masa depan dan hal-hal yang lebih penting. 

Menyikapi hal ini setidaknya terdapat dua solusi, khususnya untuk masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Pertama, jika memang benar-benar membutuhkan sepeda motor, pastikan jumlah kredit bulanan tidak melebihi 30 persen dari total penghasilan per bulan. Kredit kendaraan bermotor bisa menjadi solusi alternatif kebutuhan ekonomi sepanjang nilai total kredit tersebut tidak mempengaruhi aspek sandang dan pangan.

Kedua, dalam kondisi penghasilan bulanan yang tidak memungkinkan melakukan kredit, membeli sepeda motor bekas yang murah adalah solusi terbaik. Saat ini, harga sepeda motor bekas di Indonesia bisa mengalami penurunan harga hingga 50 persen dalam jangka waktu pemakaian lima tahun. Dengan kata lain, masyarakat miskin tetap bisa memiliki sepeda motor tanpa harus terjebak dalam hutang jangka panjang. 

Tetapi, sekali lagi, teori ekonomi bukan soal hitungan matematika. Solusi ini sangat bergantung pada prilaku finansial kita masing-masing. Apakah kita mau memiliki motor bebek keluaran tahun 2002 di saat sebagian besar teman sebaya kita memiliki sepeda motor keluaran terbaru dengan cat mengkilat dan suara mesin yang lebih halus?

*) Media Wahyudi Askar adalah mahasiswa PhD University of Manchester jurusan Development Policy and Management dengan fokus riset tentang literasi keuangan dan kemiskinan. Selain menjadi peneliti, penulis juga merupakan Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia United Kingdom. 

roda2blog di sosial media

5 Komentar

  1. emang, cuma masalahnya gini, lo butuh/ kepengen skrg apa butuh 36 bulan kemudian? uang 36 bulan kemudian barangnya masih ada apa gak? masih up to date gak? kecuali belinya celana dalem, dari dulu bentuknya gitu gitu aja wkwkwkwk

    Satu satunya cara ya mengerem keinginan.. jangan konsumtif, dan membeli dengan kredit hanya krena terpaksa.. misal butuh motor untuk berniaga..

    http://kobayogas.com/2017/06/28/atap-terlalu-tinggi-suzuki-apv-gak-bisa-lewat-gerbang-tol-otomatis-gto/

  2. Kalau ingin beli motor dengan uang cash ya nggak beli-beli. Nabung 36 bln,uang blm terkumpul sdh terpakai buat ini-itu. Segala sesuatu harus ada resikonya, termasuk kredit.

  3. Ulasan yang cerdas masalahnya orang terlaku terburu nafsu , padahal klau ada produk baru kita nunggu 2 tahun resiko lebih aman , aman dari recall,sudah penyempurnaan desain lebih menarik.
    Just opini

  4. ada yang bahas hal serupa di FB.
    itung itungan Bos ke karyawan yang mau kredit motor.
    harga Motor yang mau di beli berapa? Rp.15,125,000
    berapa DP-nya? Rp.900,000
    Berapa Cicilannya? Rp.706.000 / 3 tahun
    yuk berhitung. 900+ (706×35) =25.610.000
    berapa harga itu motor setelah cicilan lunas? 7-8 jt
    walhasil karyawannya jadi urung nyicil motor baru dan beralih beli motor second seharga 3jt-an.

  5. Lebih malesin lagi, uang kreditnya ntar juga buat nggaji sales2 ga sopan yang sering muncul di media sosial, terutama sales motor “H”. Gigih banget menghinanya.. Cara2 jualan AH* yang ga etis. Bikin blog2 jadi kayak warung terbelakang di negara berkembang

1 Trackback / Pingback

  1. Gubernur Jawa Barat Beri Bantuan DP Kredit Motor Senilai 8 Milyar – roda2blog.com

Tinggalkan Balasan