Ironi 80 Milyar Untuk Beli Mesin Parkir Kenapa Bukan Untuk Seragam Juru Parkir Aja?

“Revolusi mesin akan membuat sumber daya lebih banyak dialokasikan untuk memperkerjakan mesin dibandingkan menyejahterakan manusia”

Kutipan di atas dari salah satu episode film kartun Astro Boy. Digambarkan saat operasional mesin lebih penting daripada memikirkan kesejahteraan manusia, terutama kelas pekerja. 

Ambil contoh tentang kebijakan Pemerintah Kota Bandung yang menghabiskan dana 80 Milyar rupiah untuk pengadaan mesin parkir elektronik. 

Coba deh, pernah enggak pemerintah mengalokasikan 80 milyar untuk mengedukasi atau melatih tukang juru parkir atau memberi mereka hadiah senilai tersebut? 

Padahal selama ini, juru parkir adalah pahlawan pendapatan asli daerah (PAD). Di kota Bandung, mereka memberikan setoran 12-15 Milyar per tahun ke pemerintah kota Bandung. 

Lalu kemudian karena ingin punya pendapatan setoran PAD yang lebih besar. Mereka menghabiskan anggaran senilai 80 Milyar untuk membeli mesin. 

Coba seandainya dibalik, uang 80 milyar digunakan untuk mendidik eh bahasa kerenya training bagi seluruh juru parkir (jukir) se kota Bandung agar setoran mereka naik. Tentu mereka akan giat bekerja dan bisa memenuhi target setoran itu. 

Baca Juga:   Rossi masih bingung soal swingarm yang cocok buat DUCATI

Buktinya? selama ini para jukir tersebut bekerja tanpa insentif apapun dari pemerintah. Tanpa tunjangan, tanpa renumerasi, tanpa THR tapi masih bisa setor 12-15 Milyar per tahun. Kurang apa coba loyalitas mereka. Bandingkan kinerja mereka dengan PNS yang dapat berbagai tunjangan dan gaji ke-13 sampai 14 aja, gitu aja masih banyak yang telat masuk saat cuti lebaran. 

Karena Juru Parkir itu enggak keren, kumuh, kucel, bau makanya butuh mesin parkir biar modern?

Eit balik lagi. Jika ingin juru parkir tampil keren. Pemkot harusnya juga keluar modal dong, rata-rata jukir hanya dapat seragam 1 stel setahun sekali. Bandingkan dengan anggota DPR yang jarang ngantor, mereka bisa dapat seragam sebulan sekali. 

Coba deh para jukir itu dikasih seragam sebulan sekali. Diwajibkan tampil klimis pun mereka juga mau kok asal baju seragamnya ada. Lha selama ini diwajibkan pakek seragam jukir dari Dishub yang hanya diberi setahun sekali, ya wajar kalau kumel penampilanya.

Baca Juga:   Honda Biker Day 2015, Fun Riding Bareng Blogger

Mesin parkir elektronik yg harganya mencapai 125juta/unit itu pun, juga butuh biaya perawatan tahunan yang nilainya lebih mahal dari seragam juru parkir.

Mesin parkir elektronik memang keren tapi sayangnya, anggaranya senilai 80Milyar rupiah terasa tak adil. Selain mengurangi pendapatan juru parkir, uang yang dipakai membeli mesin tersebut jadi berasal dari setoran para jukir selama ini yang menyumbang 15Milyar per tahun ke Kas Pemkot Bandung.

Kata pepatah, dikasih susu dibalas air tuba.

80 Milyar seharusnya dipakai untuk mendidik jukir, menyejahterakan jukir, tunjangan jukir bila perlu jukir diberi seragam yang menarik, tentu target segitu bisa diraih. 

“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

Juru parkir adalah bagian dari budaya jalan raya di Indonesia. Mereka adalah pahlawan pemungut uang rakyat untuk disetorkan ke pemerintah. Sayangnya, mereka ini kurang diperhatikan pemerintah dan dicaci maki rakyat yang dipungutnya.

Pahlawan tanpa tanda jasa.
 

roda2blog di sosial media

4 Komentar

  1. Semoga dipertimbangkan lagi, berapa banyak jukir yang nanti tidak punya penghasilan.
    Sangat indah apabila pemerintah yang pro nasib rakyat dan diimbangi rakyat yang amanah dalam bernegara.

Tinggalkan Balasan