Dibalik Redupnya Suzuki GSX Dan Berakhirnya Era Blogger Sebagai Buzzer

Dunia selalu berubah dan makin cepat prosesnya di era digital ini. Bagi yang menginginkan status quo, sebaiknya pindah saja ke Korea Utara yang tidak ada internetnya.

Kali ini mimin mau bahasa soal nasib Suzuki GSX 150 baik R dan S yang penjualanya makin turun aja. Mimin gak bahas soal desain, mesin atau soalan teknis lainya. Tapi mimin mau mengkritisi soal pemasaran digitalnya. Kebetulan nih kerjanya di Internet Marketing.

Cara Suzuki mengkampanyekan si GSX 150 ini terlihat sangat jadul dan usang. Persis seperti anggota senat Amerika Serikat yang bertanya ke Marc Zukcerber, bagaimana cara kirim email via WhatsApp?

Atau sebuah Joke, ada seorang wanita paruh baya, disuruh bersihin cookies di browsernya agar passwordnya aman. Tapi si wanita itu malah bilang, ” i dont eat cookies, i’m diabetics” dikiranya cookies adalah biskuit.

Suzuki GSX hadir di saat Blog/Website sebagai media baca di Internet sudah mulai ditinggalkan. Digantikan layanan Instagram, Facebook dan Youtube.

Sekarang ini, browser internet seperti Chrome, Mozilla atau Safari sudah jarang dibuka orang.

Penyebabnya? orang lebih enjoy berselancar di dunia maya pakai hape mereka dibanding Laptop atau PC.

Gak percaya? tanya deh pegawai kantoran. Walau di PC/Laptop mereka di kantor ada sambungan internetnya. 90% dari mereka tetap milih menggunakan HP untuk ngakses internet. Alasanya?

1. karena di kantor ada Free Wifi

2. Pakek hape sendiri lebih privat dibandingkan Laptop atau PC.

3. Whatsapp, Instagram, Facebook, Twitter lebih enak pakek HP daripada PC.

Bukti ilmiahnya, akses internet melalui PC/Laptop turun drastis tinggal 15% saja.

Nahh kalau sudah begini, bagaimana nasib browser internet di HP? angkanya penggunaanya semakin turun. Sekarang hanya tersisa 30% saja orang yang memakai browser internet. Klo pun ada palingan juga makeknya opera mini sama uc browser.

Selebihnya berselancar di dunia maya menggunakan aplikasi sosial media seperti: Facebook, Instagram, Whatsapp, Twitter. Aplikasi web berita semacam detik, kompas dan kumparan pun kurang diminati.

Perubahan gaya mencari berita.

Jika dulu, orang mencari berita rutenya adalah buka browser lalu mengetik alamatnya.

Sekarang udah berubah sob. Sekarang rutenya adalah buka hape, pantau Facebook atau IG atau Whatsapp baru deh jika ada berita menarik di klik atau dibaca. Jika enggak ada, ya ngubek aja ngabisin waktu di situ. Browser? dilupain dehh.

Makanya google pusingnya minta ampun. Sampai-sampai ngebet banget bikin AMP buat nyaingin Instan Artikel-nya Facebook dan Apple News. Lho emang apa bahanya Instan Artikel dan Apple News untuk kelangsungan bisnis Google? ntarr kita bahas di postingan lain yee.

Back to topik gan.

Nahh saat ini, internet paling banyak diakses oleh pengguna hp smatphone. Masalahnya 70% pengguna HP menghabiskan waktunya lebih banyak di sosial media daripada browser. Mereka lebih banyak nongkrong di Facebook, Instagram, Whatsapp dan Youtube.

Makanya jalur berita berubah. Website dan Blog udah mulai ditinggalin.

Jalur berita sekarang ini berubah di tiga alur berikut ini:

1. Instagram

Ambil contoh kaum gosip, mereka lebih suka mantengin akun IG Lambe Turah daripada baca detikhot.com

Sama halnya di dunia otomotif. Contoh akun otomotif IG seperti @trailkabutsalju atau @agoez_bandz lebih ramai pengunjungnya dibandingkan blog-blog otomotif atau motor.

Jangkauan pembaca @trailkabutsalju misalnya, bisa mencapai 2juta-3juta pembaca setiap minggunya.

Kalau blog otomotif pribadi? berat mas broo. Seminggu 100.000 pembaca udah ngos-ngosan, udah kayak ngimpii.

Jika ingin manfaatin akun IG sebagai Buzzer, tentunya harus dipastiin bahwa akun IG tersebut ada orang dibelakangnya, bukan robot.

Contoh jangkauan akun IG dengan follower 20ribu

2. Pesbuker

Pesbuker mirip dengan Blogger, mereka mengelola website yang terhubung dengan Fans Page di Facebook. Kelebihanya, Pesbuker punya Instan Artikel (IA)

IA ini mampu membuka website dengan cepat tanpa melalui browser.

Potensinya, Instagram dan Whatsapp adalah milik Facebook. Sebuah link artikel yang telah mendapat lisensi IA, dibuka dari WA dan IG pun akan tetap mendapatkan akses Instan Artikel ini.

Ini yang bikin Google keringet dingin. Sampai panik bikin AMP untuk meyaingi IA ini. Karena jika terus-terusan seperti ini, siapa yang mau buka Google Chrome? parahnya lagi, iklan Google Adsense yang jadi sumber duitnya Google tidak bisa tampil di IA.

Kelebihan dari Pesbuker ini, mereka punya interaksi dengan pembaca setianya di kolom komentar. Makin banyak liker dan follower di Fans Page-nya berarti makin banyak orang yang bisa dijangkau.

Lebih mudah dipantau keefektifan kampanyenya, tinggal dihitung aja jumlah like, komentar dan share-nya.

Contoh Instan Artikel Facebook

3. Youtuber.

Gak bisa pungkiri, sekarang orang lebih suka nontor video review sebuah motor dibandingkan membaca ulasanya kalimat per kalimat di blog.

Baru upload 2 hari, dah tembus 7600 penonton, blog? susah mas broo. Foto: Proleevo Channel

Kalau kepanjangan, mata anda bisa keriting kayak baca tulisan ini. hehehe.

Jadi ya gitu deh gan. Kampanye Suzuki GSX terlalu banyak di Blog/Website. Makanya gak efektif.

Padahal pusat viralnya sesuatu itu di Facebook dan Instagram. Nah dua hal ini yang gak digarap serius sama Suzuki.

roda2blog di sosial media

7 Komentar

  1. Kalau gw baca lagi, ga nyambung ah ama judulnya… Wkwkw..

    Tapi di ujung artikel emang bener, sudah kesana kok tapi emg belum dimaksimalin.. Ga tau Kan? Wkwkwk

    YouTube dan selebgram juga kudu bisa sebagai influencer kalau cuma follower/ subscriber /viewer/ like banyak tapi ga berpengaruh atau ga punya reputasi ya percuma juga pabrikan make mereka hehe

    http://kobayogas.com/2018/04/19/jenis-dan-harga-aksesoris-modifikasi-honda-all-new-vario-150-dan-125-ada-shock-ohlins-video/

  2. insight yg bagus mas tentang perpindahan media dari web/blog ke media aplikasi medsos. saya kira semua brand masih belum memanfaatkan channel media sosial dengan maksimal buat branding pre-purchase mereka. yg saya lihat honda yg paling maksimal dgn @welovehonda nya. kawasaki tdk terlalu memanfaatkan tapi brand mereka cukup kuat, penjualan mereka masih diatas suzuki, pdhl dagangannya diatas 25jt semua. Saya rasa untuk suzuki ini masalah branding, bukan masalah channel yg digunakan. Mereka cuma blm menemukan pattern yg pas, kan jg lg masa comeback.

  3. ini yg dibahas dua topik yg benar namun keterkaitannya butuh pembuktian lebih. Fakta 1: Penjualan Suzuki turun. Fakta 2: akses informasi via medsos lebih tinggi ketimbang blog/portal berita tertulis.

    Fakta 1 terjadi krn banyak hal, bukan hanya karena Suzuki gagal memanfatkan fakta 2. Itu perlu pembuktian yang ga ada di artikel ini.

    Bisa saja karena memang core segment buyer Suzuki yg ga sebesar Honda dan Yamaha. Sudah membesar dibandingkan bbrp tahun lalu, tapi masih tdk besar. Atau faktor2 lain.

    ini saya ngomong begini bukan karena dapat discount blogger lho hehehe

  4. Sebagai praktisi Marketing, dapat saya infokan disini bahwa Suzuki khususnya, dan Indomobil pada umumnya, dari dulu memang selangkah tertinggal dibanding kompetitor pada sisi pemasaran.

    Brand yang dipegang Indomobil rata-rata adalah brand berkelas dan termasuk tenar di luar negeri. Hanya di Indonesia saja Indomobil tidak bisa memaksimalkan brand awareness merk-merk yang dipegangnya.

    Sebagai contoh, merk Suzuki sendiri, di Jepang maupun seluruh dunia, masih lebih positif dan lebih punya value for money dibanding brand daihatsu yang dipegang astra, namun seperti kita tahu, penjualan oleh Astra bisa menciptakan daftar indent yang panjang dan harga yang lebih mahal ketimbang produk sekelas dari suzuki yang notabene punya hasil review lebih baik di Eropa dan Amerika.

    Indomobil harus dapat berkaca dan memperbaiki sisi marketingnya. Sah-sah saja meniru strategy di belakang layar. Sebagai perbandingan mari lihat brand-brand yang dipegang Astra saat ini. BMW itu bukan brand nomor 1 di segment mobil premium, tapi di Indonesia menjadi top selling mengatasi mercy dan audy yang sama-sama berasal dari negerinya Aunty Merkel.

    Scania itu tersendat-sendat penjualannya di bagian Asia lainnya untuk segment bus, tapi di Indonesia mampu bersaing keras dengan Mercedes Benz dan Hino, dan mengalahkan Volvo yang menguasai Asia selatan dan China.

    Di segment Alat berat, Komatsu yang notabene adalah folower Caterpillar Amerika, namun oleh UT yang adalah anak perusahaan Astra, dapat dimaksimalkan penjualannya menjadi brand terbesar di Indonesia.

    Hal-hal diatas menunjukkan bahwa kualitas dan brand awareness di luar negeri, tidak menjamin keberhasilan pemasaran di Indonesia. Aktivitas dan Strategy pemasaranlah yang lebih dominan.

Tinggalkan Balasan ke belva Vania Batalkan balasan