Dituduh Mencuri, Bocah Yatim Disiram Oli Bekas di Sleman, Jogjakarta

Seorang anak berkaus biru bertuliskan Sleman dipaksa untuk menyiramkan oli bekas mengguyur kepalanya. Videonya diunggah ke medsos oleh akun Dhimaz Ian Ariesta.

Bocah malang tersebut sebelumnya dituduh telah mencuri onderdil bekas di bengkel Mega Motor Lungguhrejo, Sleman.

Benar tidaknya bocah yang dikabarkan Yatim piatu tersebut mencuri. Warganet tidak lagi peduli. Yang dipedulikan adalah kelakuan orang dewasa yang menyuruhnya mengguyur kepalanya pakai oli bekas.

Ini jelas sangat berbahaya bagi kesehatan. Pada oli bekas ada partikel-partikel kecil logam sisa gesekan mesin yang bisa masuk ke mata dan telinga. Bisa menyebabkan sakit.

Akun Facebook Masy Hadi Urc menuliskan perasaannya setelah mengetahui peristiwa itu. Dari cerita Masy Hadi, anak itu seorang yatim piatu yang tinggal di Banyeman Turi, Sleman.

“Nak, maafkan kami. Kami baru tahu ketika kejadian telah berselang hari. Saya menangis melihatmu pasrah mengguyurkan olie bekas ke kepalamu, tak setahumu kamu terpaksa membahayakan kedua matamu, mungkin olie juga masuk ke telingamu, bahkan sangat mungkin terjilat dan terminum olehmu. Kamu nampak sangat tidak berdaya melakukan penolakan. dan nalar ke anak-anakanmu belum cukup untuk melakukan alasan perlawanan dan pembelaan diri,” tulis dia.

“Kamu terlihat pasrah dan bahkan sambil tersenyum saat dipaksa mengguyurkan olie bekas ke kepalamu, saya sangat mengerti perasaanmu saat itu. Kamu merasa bersalah karena memang telah mengambil onderdil bekas di bengkel itu. Dan sama sekali tidak ada yang peduli padamu karena statusmu yang yatim piatu. Tidak ada orang dewasa di sekitar kejadian itu yang bisa berpikir sedikit waras, mencegah dan membelamu atas ketidak adilan itu,” Masy Hadi menambahkan.

Baca Juga:   Berkendara Motor Bisa Menyebabkan Impotensi dan Ambeien

Masy Hadi menuliskan perasaannya dengan panjang lebar. Dia menyesalkan kejadian itu.

Berikut ini tulisan lengkapnya:

“Meski sudah terlambat kami datang untukmu.

Nak, maafkan kami. Kami baru tahu ketika kejadian telah berselang hari. Saya menangis melihatmu pasrah mengguyurkan olie bekas ke kepalamu, tak setahumu kamu terpaksa membahayakan kedua matamu, mungkin olie juga masuk ke telingamu, bahkan sangat mungkin terjilat dan terminum olehmu. Kamu nampak sangat tidak berdaya melakukan penolakan. dan nalar ke anak-anak anmu belum cukup untuk melakukan alasan perlawanan dan pembelaan diri.

Kamu terlihat pasrah dan bahkan sambil tersenyum saat dipaksa mengguyurkan olie bekas ke kepalamu, saya sangat mengerti perasaanmu saat itu. Kamu merasa bersalah karena memang telah mengambil onderdil bekas di bengkel itu. Dan sama sekali tidak ada yang peduli padamu karena statusmu yang yatim piatu. Tidak ada orang dewasa di sekitar kejadian itu yang bisa berpikir sedikit waras, mencegah dan membelamu atas ketidak adilan itu.

Baca Juga:   Diekspor Ke Vietnam, Honda CBR150 Made In Indonesia dibandrol 60 Juta Rupiah

sehebat apa dan sekuat apa penggagas hukuman dengan persekusi ini sehingga tidak ada orang yang bisa mencegahnya.

Heran sekali, di Sleman Yogyakarta kok masih ada warga yang mental arogannya berlebihan. Kegoblogan saja tidak cukup untuk seseorang bisa melakukan hal seperti itu. Dibutuhkan arogansi dan sok kuasa, bahkan watak yang cenderung dzolim untuk bisa menghukum anak anak dengan hukuman seperti itu.

Seorang anak kecil apalagi seorang anak kecil yang yatim piatu yang mencuri, menurut saya harus dirunut dan ditelusuri lebih dalam oleh orang yang mendapatinya ketika anak yatim piatu seusia itu melakukan pencurian.
Salah,? Iya salah,
haram?, iya haram.
Tapi ingatlah pada satu peristiwa ketika Khalifah Umar sedang mbolang menemukan Seorang Ibu dengan anak anaknya yang masih kecil-kecil sedang menguliti bangkai binatang untuk mereka makan.

Khalifah menegur : “Wahai Saudari, akankah kamu beri makan anak-anakmu dengan bangkai yang mulai membusuk itu. Tahukah kamu bahwa bangkai itu haram untuk dimakan…? ”

Jawab Ibu itu :
” Yang Mulia Khalifah, sudah pasti bangkai ini haram bagi khalifah, tetapi insya Allah tidak haram untukku dan untuk anak-anak kami. Kami miskin dan lemah, Tidak ada lagi yang bisa kami makan selain ini.”

roda2blog di sosial media

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan