Sepeda Pacific Buatan Mana Aslinya?

Pasar sepeda angin atau sepeda gowes di Indonesia ini cukup besar dengan permintaan pasar mencapai 1,1juta unit pertahun sedangkan kapasitas produksi pabrik sepeda di dalam negeri hanya 600,000 unit per tahun, walhasil selisihnya 400,000 masih impor dari luar negeri.

Ada banyak brand sepeda angin lokal yang asli Indonesia seperti Polygon, United dan Thrill yang saat ini terus tumbuh mekar sedangkan merek Wym Cicle malah meredup kalah persaingan.

Informasi perusahaan Sepeda Pacific

Pabrikan sepeda dari China sendiri, sekarang sudah mulai mengembangkan merek dengan nama lokal Indonesia. Atau istilahnya rebranding, merek China masuk ke Indonesia dikasih merek lokal. Mereka pun juga bikin pabrik di Indonesia.

Salah satunya adalah produsen sepeda asal China  “Tianjin Bright Wheel Ltd.” yang di Indonesia berkolaborasi dengan merek Pacific bikin pabrik sendiri pada tahun 2013 di bawah PT. Roda Pasifik Mandiri. Dari sinilah muncul sepeda MTB dengan merek Pacific,  Aviator, Turanza dan Exotic yang secara harga murah meriah di kelasnya.

Baca Juga:   Sepeda Lipat Pacific Yang Paling Rekomended

Pabrik ini tidak hanya menjual untuk pasar Indonesia, tapi juga untuk ekspor ke Eropa dan India. Karena ekspor sepeda jika langsung dari China ke Eropa dan India bisa kena pajak dobel gan, jadi klo Ekspor dari Indonesia bisa menghemat tarif pajak.

Tapi ya gitu deh, karena ada rasa “China” maka ada beberapa model sepeda yang punya “rasa” menjiplak model sepeda yang laris. Ambil contoh Sepeda Exotic ET2655 yang desainya mirip dengan sepeda laris Thrill Ravage.

Sepeda Exotic buatan yang mirip dengan Thrill Ravage

Merek sepeda Pacific juga sempat terseret kontroversi saat Asian Games 2018. Saat itu pengurus PB ISSI tanpa alasan yang jelas melakukan melakukan pergantian Atlit. Zaenal Fanani dan Kusumawati Yazid digantikan padahal keduanya sarat prestasi.

Banyak penghobi sepeda yang meyakini bahwa pergantian ini karena ada “unsur” sponsor, Tim MTB Cross Country disponsori oleh Pacific sedangkan sosok Zaenal Fanani sangat lekat dengan merek Thrill dan Kusumawati selama ini disponsori oleh Polygon.

Baca Juga:   Peduli Covid-19, Rider MASCOT Bagikan Masker Saat Gowes Malam

Hasilnya, tim balap MTB Cross Country Indonesia gagal total di ASIAN GAMES 2018. Tim tuan rumah enggak dapat apa-apa di lintasan balapnya sendiri … memalukan.

Prestasi nasional digadaikan demi sponsor yang lebih menguntungkan federasi dibandingkan kebutuhan pembalap. Secara personal, Thrill dan Polygon udah jadi sponsor masing-masing pembalap dengan memberikan dukungan penuh sepeda,  spare part dan riset geometri.

Salah satu alasan kenapa sebuah harga sepeda itu murah adalah “karena tidak ada biaya riset geometri frame”. Geometri pada frame sepeda ini sangat penting karena akan menentukan enak tidaknya sebuah sepeda saat digowes.

Percuma part-part yang nempel di sepeda harganya mahal-mahal kelas wahid, jika geometri frame sepedanya ngaco, enggak bakal enak dikendarai.

Oke demikian artikel ini, semoga bermanfaat.

 

roda2blog di sosial media

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan