Badai Corona, Deja Vu Kiamat Dunia Pariwisata

Deja Vu secara harfiah “pernah dilihat”, adalah fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.

Booming dunia pariwisata di Indonesia lalu kemudian tiba-tiba orang males jalan-jalan, kejadian itu pernah terjadi di Indonesia lalu akan kembali lagi terulang (deja vu) saat ini, saat wabah corona dan setelah selesai corona.

Tahun 1970-1980 saat ekonomi Indonesia mulai membaik setelah hancur lebur di tahun 1960-an. Warga masyarakat saat itu mulai gemar piknik atau yang dalam bahasa keren saat itu “Dharma Wisata”.

Pemerintah lalu membangun banyak taman-taman hiburan rakyat. Seperti Taman Wisata Umbul di Madiun. Taman Wisata Kucur di Ponorogo. Taman wisata Kosala Tirta di Magetan dan banyak lagi. Termasuk wisata alam seperti Pantai, telaga, Museum dll.

Booming wisata jaman tersebut juga didorong oleh berkembangnya teknologi cetak foto berwarna. Kenangan di tempat wisata, dicetak dalam ukuran besar lalu dibingkai di pajang di dinding atau di almari atau disimpan dalam sebuah album kenangan.

Baca Juga:   Efek Pemakaian Oli Diesel Pada Honda Win

Masa tersebut berakhir di tahun 1990-2010. Di tahun 1990-an orang malaes untuk plesiran, mereka lebih mementingkan nonton acara Televisi.

Banyaknya Channel TV dengan acara menarik, bikin masyarakat betah nongkrong di depan layar. Agenda yang lain minggir termasuk turing/wisata.

Ambil contoh ketika ada sinetron seperti Siti Nurbaya tayang atau Si Doel Anak Sekolahan atau F4 atau Awan dan Angin. Acara lain dipinggirkan, nonton TV diutamakan.

Suasana paling dinantikan anak 90an, nonton TV bukan jalan-jalan. Foto:IDN Times

Jalan-jalan di Hari Minggu? Maaf harus dibatalkan jika Mike Tyson bertanding. Atau Julio Cesar Chavez atau Prince Nasem Hamed main. Apalagi bagi anak-anak, mereka akan nangis meronta-ronta demi untuk nonton film kartun daripada diajak keluar ortu jalan-jalan.

Warga hanya jalan-jalan saat acara TV juga libur enggak menarik, biasanya pada hari libur nasional karena semua TV dikontrak sama Mbah Harto.

Akibatnya banyak kebun binatang dan Taman Wisata yang mangkrak, tidak terurus, dan bangkrut karena sepi pengunjung.

Baca Juga:   Beginilah Kehidupan Sebenarnya Orang Arab, Gak lebih baik dari Indonesia kok

Lalu era Pariwisata bangkit kembali di tahun 2010. Saat layar Hape mulai berwarna dengan kamera yang bening ditambah media sosial sebagai tempat untuk memajang foto saat plesiran.

Dunia Pariwisata bangkit lagi. Banyak pantai-pantai baru, wahana-wahana wisata baru, Bahkan desa-desa juga berani bikin tempat wisata yang beda walau hanya di pinggir kali.

Di tahun 2020 ini wabah Corona muncul, warga dilarang bepergian. Tempat-tempat wisata ditutup.

Nah apakah minat warga plesiran akan akan sama lagi dengan sebelum Corona?

tantanganya justru bisakah/mampukah para pengelola merawat tempat pariwisata selama ditutup? karena Corona ini diprediksi paling cepat berakhir dalam 3 bulan. Setelah selesai, warga butuh waktu lagi sekitar 3 bulan untuk memulihkan kantong ekonominya.

Jadi total ada 6 bulan atau bahkan 1 tahun bagi warga kelas menengah untuk memikirkan plesiran. Karena mereka butuh waktu untuk mengisi lagi kantong saku setelah 3-4 bulan minim pemasukan.

Jaadi, inilah deja vu. Terjadi lagi.

roda2blog di sosial media

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan