Kenapa di Ponorogo Banyak Sepeda Tua Zaman Belanda

Ponorogo adalah surga bagi pemburu sepeda onthel tua klasik. Banyak rangka-rangka sepeda dengan tahun produksi 1890-1900. Kok bisa ya?
Jadi sejarahnya begini.Setelah perang Dipenogoro, pada tahun 1850 seluruh raja, adipati dan bupati di Pulau Jawa telah menyatakan diri tunduk menyerah dan setia kepada Belanda kecuali bupati Sumoroto, Warok Brotodirjo III.Akar masalahnya adalah, Belanda ingin menyatukan Kabupaten Sumoroto kedalam kabupaten Ponorogo. Namun itu ditolak oleh Brotodirjo III dan mengancam sambil menggalang kekuatan.Pengaruhnya menyebar ke daerah di Karesidenan Madiun dan di perbatasan Wonogiri dan karanganyar, Jawa Tengah yang banyak waroknya.Belanda saat itu baru saja kehilangan banyak uang untuk membiayai perang melawan Pangeran Diponegoro dan Imam Bonjol di Sumatera.Mereka bisa bangkrut jika harus perang lagi melawan warok Sumoroto. Dalam catatan Belanda, para Warok yang memiliki skill berperang dan ilmu kebal sangat tangguh bagi pasukan Belanda.
Belanda pun menawarkan proposal perdamaian.Maka dari itu untuk menghindari perang, pihak Belanda membuat kesepakatan damai dengan Brotodirjo III.Ponorogo dipecah menjadi dua, Ponorogo Tengah dan Sumoroto. Brotodirjo III menjadi Bupati di Kutho Kilen. Belanda juga berjanji untuk memperbaiki akses ke Ponorogo dan Sumoroto, selain jalan raya juga akan dibangun rel kereta api yang menghubungkan Kota Ponorogo dengan Madiun.Pada tahun 1855 Brotodirjo III meninggal dunia. Digantikan oleh putranya Brotodirjo IV.Tahun 1877, Kabupaten Sumoroto dihapus, dileburkan jadi satu dengan Kabupaten Ponorogo. Brotodirjo IV dipindah jadi Bupati Ngawi.Untuk meredem emosi para warok, Belanda memberikan pada warok sepeda onthel yang jumlahnya ribuan.Maka tidak heran hingga saat ini kota dengan jumlah sepeda tua terbanyak berada di Ponorogo, yang kala itu di gunakan oleh para Warok juga.

roda2blog di sosial media

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan