Di Balik Keindahan Pantai Klayar, Ada Proses Edukasi Pantang Menyerah Untuk Membuat Gula Kelapa Yang Sehat

Perjalanan turing akhir tahun kali ini adalah menyusuri jalanan Pacitan, kabupaten kecil di Jawa Timur yang berbatasan dengan Jawa Tengah dan Yogyakarta. Salah satu destinasi wisata favorit karena punya banyak pantai unik dan indah. Di antara yang terkenal adalah Pantai Klayar yang menjadi tujuan turing saya kali ini.

Selain pantai, kontur jalan di Pacitan yang berkelak kelok, naik turun, memang sangat menyenangkan bagi penghobi motor seperti saya. Makanya enggak heran lagi kalau jadi jujugan turing para pemotor. Pantai Klayar sendiri mulai terkenal juga karena pemotor sejak tahun 2010.

Dulu kondisi jalan raya, hanya memungkinkan para pemotor yang bisa ke sana, setelah ramai, barulah jalan raya dilebarkan agar mobil hingga bus besar bisa masuk ke sana. Sampai sekarang, beberapa pantai yang eksotik di Pacitan belum bisa dijangkau bus-bus besar, seperti Pantai Watukarung di dekat Klayar, yang dijuluki Kuta-nya Pacitan.

Pemandangan elok sepanjang perjalanan. Foto: Amam

Untuk menghindari tanggal 31 yang udah pasti ramai karena malam tahun baru yang bertepatan dengan malam minggu, saya pilih berangkat tanggal 30 yang kebetulan juga hari Jumat tanggal 1 Januari baru balik.

Turing di hari Jumat itu sangat menyenangkan bagi saya yang muslim. Bisa merasakan ibadah sholat Jumat di masjid di tengah pelosok gunung, itu memberikan pengalaman spiritual tersendiri bagi saya, seperti kali ini, tepi jalan ke arah Klayar.

Di sebuah masjid kecil yang baru dibangun dari bantuan sebuah lembaga sosial dengan jamaah hanya dua baris, khutbah yang sederhana tidak bertele-tele, udara dingin pegunungan, keramahan warganya, ahhh yang seperti ini selalu memberikan setruman ke dalam jiwa saya.

Sebuah masjid di Donorojo, Pacitan. Foto: Amam

Selepas sholat Jumat, gas motor kembali saya pelintir menyusuri jalan raya Punung. Berkelak kelok dengan pemandangan indah pohon-pohon jati, batuan karst dan rumah warga yang khas Jawa.

Setelah menempuh satu jam perjalanan dari Kota Pacitan, akhirnya sampai ke gerbang loket pantai Klayar. Dan seperti biasa, karena motoran sendirian, saya tidak dipungut tiket masuk. Cukup bunyi klakson aja dua kali, “tin, tin” sambil menganggukkan kepala.

Setelah menyusuri tepian pantai menikmati pemandangan sejenak, motor mengarah ke rumah makan Larasati. Untuk bertemu dengan Bapak Sutarno. Beliau adalah mitra PT. Astra Internasional (Astra) dalam menggerakkan Desa Sejahtera Astra di Pacitan.

Program Desa Sejahtera Astra di Pacitan, Wisata dan Gula Kelapa

Program Desa Sejahtera Astra (DSA) di Pacitan dimulai sejak tahun 2020 meliputi tiga desa yaitu: Desa Sendang, Desa Kalak dan Desa Widoro, semua di kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. Adapun pengembangan produk unggulan desa (prukades) yang digarap adalah Gula Kelapa dan Layanan Wisata Pantai.

Untuk pariwisata, Astra memberikan edukasi dalam hal promosi digital kepada homestay yang berada di sekitar Pantai Klayar. Secara administratif, Pantai Klayar berada di desa Sendang, kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan.

Saya tidak terlalu tertarik dengan dengan kiprah DSA di sini dalam membantu pengebangan layanan pariwisata. Tapi cerita perjuangan Pak Tarno (Panggilan akrab Sutarno) dalam mengarungi pandemi terasa lebih menarik untuk saya bagikan.

Saya bersama Pak Tarno, dulu beliau juga pernah menjadi pendamping Kampung Berseri Astra Pacitan. Foto: Leo

Awal tahun 2020 yang lalu disambut Pak Tarno dengan optimisme dan semangat. Dia baru saja resmi pensiun sebagai Guru di SMK tahun di akhir 2019. Rencana-rencana hebat telah dia susun dengan cermat, termasuk bersama DSA, dalam upaya mengembangkan usaha rumah makan dan homestay Larasati-nya.

“Pensiunan pegawai negeri itu mas, harus punya rencana kegiatan yang spesifik setelah pensiun jika enggak bisa stroke sebulan setelah menerima SK Pensiun,” kata Pak Tarno yang juga pernah bekerja sama dengan Yayasan Pendididikan Astra – Michael D. Ruslim tahun 2015 dalam mengelola rumah pintar.

Apa daya, manusia yang berencana, Tuhan yang menentukan. Berbagai rencana indah paska pensiun ambyar ketika pandemi covid-19 melanda. Hampir dua tahun pantai Klayar ditutup oleh pemerintah untuk mengurangi resiko penularan.

“Di usia 61 tahun, jika tidak kuat, saya pasti langsung stroke,” katanya renyah sambil terkekeh. Rasanya seperti tamparan buat anak-anak muda yang sering pamer kegalauan di sosial media. Beliau yang lahir tahun 1960, yang mengalami pasang surut negara kita sejak Presiden Pertama aja bisa kuat kok.

Baca Juga:   5 Destinasi Wisata Populer di Semarang, Wajib Dikunjungi!

“Nanti pulang dari sini, sampeyan (kamu) lewat rute sungai Maron aja”

“Kenapa pak?” tanya saya

“Biar kamu merasakan, bahwa hidup kalau menurun terus itu jika dinikmati juga enak, dan biar yakin setelah turunan pasti ada tanjakan,” jawabnya.

“Hahahaha,” kami tertawa bersama.

Setelah turunan pasti ada tanjakan, nikmati aja prosesnya, jalan raya Maron-Klayar. Foto: Amam

“Iya juga ya pak, saya kalau nyopir di jalan tol yang lurus-lurus aja itu gampang ngantuk,” kata.

Di akhir 2022 menyongsong tahun baru 2023 besok. Kunjungan wisatawan ke Pantai Klayar telah pulih lagi, bahkan mungkin akan lebih ramai lagi.

“Nah ini dia, Mas Leo,” katanya menyambut seorang pemuda yang baru saja datang masuk ke obrolan kami.

Jalan Terjal Edukasi Pembuatan Gula Kelapa yang Sehat

Mas Leo menunjukkan proses pembuatan gula kelapa yg masih tradisional. Foto: Leo

Mas Leo adalah sarjana pertanian dari Institut Pertanian STIPER Yogyakarta (Instiper) yang mendapat tugas untuk mendampingi proses revolusi produksi gula kelapa. Salah satu prukades dalam program Desa Sejahtera Astra selain layanan jasa pariwisata.

Gula kelapa adalah salah satu bumbu penting dalam pembuatan masakan Jawa seperti Kecap Manis, Gudeg, Baceman, Rica-rica, Brongkos, Tongseng dll.

Selama ini dalam proses pembuatan Gula Kelapa memakai bahan yang berbahaya bagi kesehatan yaitu sabun deterjen bubuk saat penderesan air nira kelapa. Nira ini mudah sekali rusak karena kontaminasi mikroba untuk mencegah kerusakan itu, selama ini pengrajin gula kelapa memakai sabun deterjen sebagai pengawet.

Sabun deterjen akan dituangkan ke dalam bumbung selama penyadapan air nira kelapa. Tujuanya agar air nira yang tertampung di dalam bumbung tidak busuk dan basi karena proses penyadapan bisa satu sampai tiga malam.

Penggunaan deterjan ini menjadi ancaman bagi kesehatan konsumen. Senyawa bahan aktif dari deterjen yang mengendap di tubuh manusia, bisa menyebabkan penyakit kanker.

Dikutip dari suistanition.id, kebanyakan sabun deterjen menggunakan surfaktan yang berupa phosphat, alkyl benzene sulfonate, Diethanolamines , Alkyl phenoxy. Semua senyawa ini merupakan senyawa yang berasal dari sumber daya yang tidak dapat diperbarui (minyak bumi), beracun, dan berbahaya, berbahaya bagi lingkungan juga bagi manusia.

Seorang pengrajin gula sedang menampung air nira. Foto: Leo

Untuk produksi yang lebih sehat, Astra bekerjasama dengan Instiper Jogja, mengenalkan getah kulit manggis sebagai pengganti sabun deterjen untuk mengawetkan nira, mencegah kontaminasi mikroba dan pembusukan. Pengawet dari getah kulit manggih ini disebut juga dengan laru.

Tentu berat, sesuatu yang dulunya memakai bahan yang mudah ditemukan dan murah, kemudia memakai bahan alami yang harganya mahal.

Tantangan berat lainya adalah kurangnya kesadaran para pengrajin tentang bahaya sabun deterjen bagi kesehatan manusia. Kebanyakan berpendapat bahwa pemakaian hanya sedikit tidak akan bikin sakit.

Tantangan lain adalah pada produk gula kelapa yang proses penderesanya memakai deterjen dan getah buah manggih sangat mirip, hampir tidak ada perbedaan.

“Bedanya sangat tipis,” kata mas Leo.

Jika hasil akhirnya mirip, hampir tidak ada bedanya, ngapain repot-repot pakai bahan baku yang mahal. Itu mindset yang ada di kebanyakan perajin.

Proses pembuatan laru/pengawet alami dari getah kulit manggis. Foto: Leo.

“Berat banget mas, dulu jumlah perajin Gula Kelapa kita itu ada 30 sekarang tersisa separuhnya saja, 15 orang,” jawab Mas Leo ketika saya tanya mengenai tantanganya dalam revolusi bahan baku ini.

“Salah satu kendala utamanya adalah perajin tidak mau menabung di kami,” lanjut mas Leo.

Harga satu kilogram getah Manggis itu mencapai dua juta rupiah. Namun penggunaanya sangat minimalis, untuk produksi 120kilogram gula kelapa, hanya dibutuhkan 10 gram saja, atau setara hanya 20.000 rupiah saja.

“Pengrajin kami wajibkan menabung dari hasil penjualan ke kami, agar dalam pembelian getah manggis bisa bareng-bareng, karena minimal pembelian adalah satu kilo,” terang Mas Leo.

Sedangkan selama ini dalam proses penyadapan nira, mereka cukup mengambil sesendok deterjen, dituangkan ke bumbung bambu, hampir tampa modal.

“Dan itu tidak beli lho ya, cukup ngambil dari tempat cucian di rumah,” tambah mas Leo disambut tawa saya.

Bantuan Tunas Cikal Kelapa, Bibit Manggis dan Pupuk Untuk Kemandirian Bahan Baku.

Pemberian bibit Manggis, tunas kelapa dan pupuk. Foto: Leo

Untuk menjaga kelangsungan produksi di masa mendatang, Astra memberikan bantuan tunas cikal pohon kelapa varietas unggulan serta pupuk untuk pohon kelapa yang sudah ada saat ini yang menjadi sumber bahan baku utama pembuatan gula kelapa.

Baca Juga:   Yamaha Maxi Day 2022 Jawa Tengah, Ratusan Biker Timur Tengah Serbu Telaga Madirda

Astra juga memberikan bibit pohon manggis untuk ditanam di sekitar rumah para pengrajin gula kelapa. Sebagai bahan penunjang utama produksi gula kelapa. Selama ini getah kulit buah manggis masih didatangkan dari Purworejo, Jawa Tengah.

Targetnya, lima tahun ke depan, saat pohon manggis tersebut telah berbuah. Para pengrajin bisa mengambil getah buahnya tanpa perlu membeli lagi dari luar kota. Sehingga lebih menghemat biaya produksi.

Pemasaran Lancar dan Menjadi Produk Unggulan Provinsi Jawa Timur

Tiga ibu pengrajin gula kelapa binaan Desa Sejahtera Astra, akhirnya bisa ngerasain naik pesawat terbang ketika mengikuti misi dagang bersama pemprov Jawa Timur di Samarinda. Foto: Leo

Produk akhir dari program DSA ini adalah gula kelapa dalam bentuk padat dan gula kelapa cair dengan label merek “Sajeng Manis”. Untuk pemasaran hampir tidak ada kendala, bahkan permintaan konsumen makin meningkat terutama seiring kesadaran masyarat tentang pentingnya kesehatan paska pandemi.

Wilayah primer penjualan adalah daerah Jogja, utamanya ke toko oleh-oleh dan rumah makan tradisional khas Jogja. Sedangkan pasar sekundernya adalah luar pulau melalui misi dagang pemerintah provinsi Jawa Timur. Sejak 2022, Sajeng Manis telah ditetapkan jadi salah satu produk unggulan Jawa Timur yang sering diikutsertakan dalam pameran produk unggulan di luar pulau, sudah dua kali yaitu ke Kalimantan dan Sulawesi.

Harga jualnya, dibandrol dengan harga 16 ribu perkilogram. Selama pandemi, pemasaran sempat tersendat karena pembatasan pergerakan masyarakat dan menurunya omset toko oleh-oleh tapi sekarang sudah pulih lagi.

Proses penitisan atau pencetakan gula kelapa. Foto: Leo

Manfaat utama yang didapatkan oleh perajin adalah harga jual yang stabil. Saat musim hujan, ketika produksi nira kelapa melimpah, biasanya harga jual akan menurun sampai 10.000/kilogram karena stok melimpah, tapi bagi perajin binaan DSA akan tetap mendapat harga beli yang stabil di angka 16.000/kilogram.

Mas Leo sendiri asli Jogja, selama pendampingan produksi ini harus rela ngekos di rumah Pak Tarno, dan tiap dua pekan sekali pulang-pergi Jogja-Pacitan untuk mengurusi pemasaran produk.

Ditanya tentang hasil yang sudah dirasakan pengrajin gula kelapa dari proses ini, mas Leo cuma menjawab,
“Ibu-ibu pengrajin di sini sekarang sudah enggak menagih uang jatah bulanan dari para suami,”

Saya tersenyum mengangguk saja.

“Dengan syarat, para suami setiap pagi harus segera memanjat pohon kelapa untuk mengambil deresan air nira,” terusnya.

Tampak seorang perajin bersiap memanjat pohon kelapa untuk menderes nira. Foto: Leo

“Tiap pengrajin dalam sebulan paling sedikit menghasilkan gula kelapa 100kg, itu saat musim kemarau dan paling banyak bisa sampai 200kg saat musim hujan,” tambah mas Leo.

Jika harga perkilonya 16.000 berarti dalam sebulan bisa mendapatkan 1.600.000 hingga 3.200.000 rupiah. Luar biasa, sangat menggiurkan meskipun harga getah manggis lebih mahal dari sabun deterjen, keuntungan tetap potensial.

Menyebarkan Proses Kebaikan melalui Gethuk Tular

Proses produksi baik, sehat dan benar harus ditularkan walaupun jumlah perajin saat ini menurun, dari 30 tersisa 15 orang yang tersebar di tiga desa yaitu, Sedang, Widoro dan Kalak. Namun nilai keuntunganya yang potensial tetap menggiurkan, terutama untuk menambah pendapatan keluarga dan aktifitas tambahan bagi ibu rumah tangga.

“Kami menggunakan cara getuk tular mas, agar banyak warga yang tahu manfaatnya dan yang ingin ikut serta produksi gula kelapa ini kami menyediakan fasilitasnya,” kata mas Leo.

Kegiatan belajar membuat gula kelapa langsung dengan pengrajin. Foto: Leo

Gethuk Tular artinya menyampaikan informasi dari satu orang ke orang lain melalui obrolan. Jika ada mau yang belajar, beberapa pengrajin telah ditunjuk untuk siap menjadi tuan rumah sekaligus instruktur di rumahnya masing-masing untuk mengajari sembari membuat gula kelapa.

Harapanya jumlah pengrajin bisa bertambah lagi, aktifitas pembuatan gula kelapa ini juga bisa menjadi kesibukan tambahan bagi ibu rumah tangga, pemasukan tambahan bagi keluarga dan produl yang sehat bagi konsumen.

Perjuangan berat untuk mengedukasi pembuatan gula kelapa yang lebih sehat sedang dilakukan, saya percaya setiap kebaikan pasti akan menemukan jalanya untuk berjaya. Semoga cara-cara yang baik ini juga nantinya menyadarkan perajin gula kelapa yang lain agar lebih menggunakan bahan-bahan yang sehat dan aman dalam proses produksi.

Sekian cerita turing kali ini, semoga bermanfaat dan selamat tahun baru 2023 dari Pantai Klayar Pacitan.

Be the first to comment

Tinggalkan Balasan